Compassion Di Tempat Kerja (Bagian I): Manfaat Dan Cara Menumbuhkannya
Newsletter Ed. VI, 2019
“Kasih sayang dan belas kasih adalah kebutuhan, bukan kemewahan. Tanpanya kemanusiaan tidak akan bertahan.”
Pagi ini Ibnu, atasan Juli, mengamati sikap Juli dalam meeting yang berbeda dari biasanya. Juli yang sangat aktif dan terlibat dalam interaksi dengan tim, hari ini terlihat tidak banyak terlibat dalam diskusi dan jika tidak ditanya langsung cenderung diam. Setelah meeting, Ibnu bertanya apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Juli. Awalnya Juli kelihatan ragu dan mengatakan hanya hal-hal biasa yang terjadi di rumah. Namun setelah Ibnu menunjukkan kesungguhannya untuk memahami situasinya, Juli pun kemudian menceritakan apa yang mengganggu pikirannya.
Kemarin Juli mendapat kabar mengenai kesehatan ayahnya yang makin memburuk akhir-akhir ini sebagai dampak dari gempa yang menimpa daerahnya. Kejadian tersebut menjadi trauma mengerikan bagi ayahnya. Setelah mendengar kabar tersebut, pikiran Juli terganggu dan semalam tidak bisa tidur nyenyak. Demikian, Juli mulai menceritakan apa yang sedang mengganggu pikirannya.
Secara pribadi Ibnu bisa merasakan beban dan penderitaan Juli. Namun, sebagai atasan Juli, Ibnu tidak tahu pasti, bagaimana harus merespon. Pendidikan MBA dan pelatihan leadership yang pernah diikuti tidak cukup mempersiapkannya untuk menghadapi situasi seperti ini. Apakah situasi di luar tempat kerja dari tim menjadi bagian yang perlu dikelola atau adalah sesuatu di luar batas yang tidak perlu ia perhatikan secara serius. Di tengah ketidaktahuannya, Ibnu secara spontan menawarkan agar Juli bisa mengambil cuti untuk pulang ke kampungnya. Tidak semua atasan bisa memutuskan seperti itu. Keputusan Ibnu untuk memberi perhatian kepada penderitaan Juli, memaknainya sebagai suatu yang relevan untuk ditindaklanjuti merupakan sebuah contoh dari banyak contoh serupa yang menjadi bahan penelitian Jane Dutton dari CompassionLab. Sesuatu yang nampak sebagai sebuah interaksi interpersonal biasa dari Ibnu merupakan inisiatif yang berpotensi meringankan penderitaan Juli. Hal ini merupakan inti dari Compassion.
The Science and Practice of Compassion
Jane Dutton dengan para koleganya, telah mempelajari isu compassion selama lebih dari 20 tahun. Dalam bukunya Awakening Compassion at Work yang ditulis bersama dengan Monica Worline, Compassion didefinisikan sebagai “perasaan dan dorongan untuk meringankan penderitaan”. Mereka merumuskannya secara lebih detil sebagai proses yang terdiri atas empat bagian sebagai berikut:
Melihat/memperhatikan adanya penderitaan
Memberikan makna sehingga timbul hasrat untuk meringankan beban ini
Merasa empatik kepada pihak yang menderita
Mengambil tindakan untuk meringankan penderitaan tersebut
Compassion meringankan penderitaan. Konsep yang jarang mendapat prioritas dan perhatian khusus dalam organisasi. Namun, kenyataan bahwa pekerja bisa menjalani hidupnya sebanyak 100 ribu jam dalam lingkungan organisasi, menjadikan organisasi sebagai konteks menarik untuk mempelajari berbagai implikasi dari relasi yang terjadi. Penelitian mendalam dalam ilmu compassion menginformasikan kita betapa pentingnya tema compassion dalam konteks organisasi yang jika dipahami dan dikembangkan dengan baik akan merupakan kekuatan dahsyat yang masih terpendam.
Sumber penderitaan ditempat kerja secara umum bisa dibagi atas dua kategori. Berasal dari luar tempat kerja, seperti contoh kasus Juli diatas dan sumber dari dalam organisasi. Berdasarkan survei dari Dutton dan koleganya, sumber penderitaan dari dalam yang paling sering disebut adalah:
Kurang atau tidak adanya apresiasi terhadap kemampuan pekerja
Supervisor tidak mengerti kesulitan dari pekerja
Target dan tenggat waktu yang sangat menantang
Perasaan bahwa apa yang dikerjakan tidak bermakna
Beberapa contoh ini merupakan penderitaan yang umum dijumpai di tempat kerja. Demikian seringnya sehingga dianggap sudah menjadi bagian yang wajar dari suasana lingkungan kerja. Contoh lain dari dalam organisasi adalah perubahan kebijakan sebagai akibat dari restrukturisasi, perampingan dan perubahan-perubahan lainnya yang berdampak menambah beban pekerjaan. Sering kali para pemimpin menganggap hal-hal seperti ini sebagai suatu yang wajar sebagai biaya yang harus dibayar dan akan menjadi hal yang biasa lagi karena kemampuan adaptasi manusia. Namun, organisasi juga dapat mengambil sikap dan tindakan yang berbeda. Para pemimpin bisa menanggapinya dengan compassion. Hasil penelitian dari Dutton dan koleganya menunjukkan bahwa di banyak organisasi yang unggul, para pemimpin menganggap hal ini sebagai bagian dari tanggung jawab mereka. Penelitian dari Kim Cameron dari Ross School of Business, University of Michigan, menunjukkan perbedaan yang signifikan dari kinerja operasional dan finansial antara perusahaan yang mempromosikan compassion dengan yang tidak. Kesimpulan sementara dari hasil penelitian menunjukan manfaat compassion bisa dirasakan di tingkat interpersonal, tim, dan organisasi.
Setelah mengenal konsep dan manfaat compassion, bagaimana kita dapat mulai menumbuhkan keterampilan compassion kita? Empat tahapan proses dari Dutton bisa menjadi acuan praktik kita.
Empat Tahapan Mengembangkan Compassion
Langkah pertama dimulai dengan melatih memperhatikan penderitaan yang ada di sekeliling kita. Di lingkungan rumah, tempat kerja atau komunitas. Lebih sensitif terhadap perubahan perilaku orang yang menunjukan kemungkinan adanya penderitaan. Ada beberapa tanda-tanda umum misalnya, seorang yang biasanya selalu terlibat kemudian cenderung lebih menarik diri, seperti yang diamati Ibnu terjadi dengan Juli. Air muka adalah bagian yang sulit disembunyikan, murung atau sedih menunjukan potensi ada penderitaan. Juga postur tubuh yang menunjukan adanya kelelahan, seperti bahu yang menurun. Tidak selalu orang bisa terbuka mengungkapkan kesedihan dan beban yang dideritanya secara terbuka ditunjukan. Seringkali diperlukan inisiatif dari kita untuk ingin tahu lebih jauh secara tulus.
Langkah kedua adalah memaknai penderitaan yang dialami. Seringkali bagian ini terjadi secara cepat di luar kesadaran kita. Sebagai contoh, coba anda mengingat suatu situasi dimana anda melihat kondisi orang lain, dan anda langsung berpikir, ”salah kamu sendiri, rasain sekarang akibatnya.” Ini contoh di mana kita merasa orang tersebut memang layak disalahkan. Penelitian menunjukkan pemikiran seperti ini akan menutup jalan ke arah compassion. Contoh pemikiran kedua yang menutup jalan ke arah compassion adalah kalau kita merasa yang bersangkutan tidak layak mendapat perhatian kita, dengan alasan apa pun juga. Contoh pemikiran ketiga adalah jika kita merasa tidak mampu untuk membantu. Pemikiran ini akan juga menutup keinginan kita untuk merespon secara compassion. Untuk mengatasi pemikiran yang membatasi ini, kita perlu secara sadar mempertanyakan asumsi yang terjadi dalam pikiran kita secara otomatis tadi. Menggunakan keingintahuan kita untuk mengetahui sebab lebih dalam dari penderitaan ini.
Langkah ketiga dari empat langkah yang diusulkan Jane Dutton adalah empati. Para peneliti dalam bidang ini menekankan makna empati dalam beberapa aspek. Mencakup mengetahui perasaan dan pikiran orang lain, membayangkan diri kita dalam posisi orang tersebut, merasa prihatin dengan penderitaan orang lain dan lainnya. Perkembangan dalam ilmu compassion dan neuroscience menunjukan bahwa kapasitas untuk berempati adalah bawaan lahir manusia. Demikian kuatnya ada dalam diri setiap manusia sehingga sering kali hanya dengan melihat orang lain menderita sudah bisa membuat kita ikut menderita secara fisik. Kemampuan empati ini perlu sering kita asah sehingga menjadi lebih tajam.
Langkah keempat dan terakhir adalah melakukan tindakan riil yang tepat untuk meringankan penderitan. Tindakan ini sering perlu kreatifitas dan improvisasi. Dalam konteks tempat kerja, inisiatif yang popular misalnya flexi time bagi yang dalam situasi sulit masuk jam standar, pengumpulan dana untuk meringankan penderitaan seseorang mengalami musibah.
Dengan tulisan diatas, mari bayangkan seberasa besar compassion mengalir di lingkungan sekitar, di tempat kerja dan dalam diri anda sendiri? Kapan terakhir praktik compassion ini anda lakukan bagi orang lain? Di manapun posisi anda dalam organisasi, selalu ada peluang untuk melakukan compassion. Bertindak compassion tidak hanya mengurangi penderitaan yang menerima, tetapi juga memberikan penyegaran dan pembaharuan psikologis bagi yang memberi.
Aspek-aspek Esensial dari Compassion (Belas Kasih) Sebagai Sebuah Proses Sosial di Organisasi
- Kejadian-kejadian penderitaan (suffering) yang muncul di dalam konteks organisasi dan bisa diklasifikasikan oleh berbagai jenis pemicu rasa sakit. Penderitaan mengakibatkan munculnya proses mengelolanya, seperti dengan berbagai ekspresi, perhatian, perasaan, dan tindakan, yang berkontribusi menjadikan berbagai kemungkinan keluaran-keluaran yang unik pada setiap macam penderitaan.
- Penderitaan bisa diekspresikan dengan berbagai cara, dan ekspresi-ekspresi dari penderitaan di tempat kerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kekhawatiran pribadi, ekspektasi-ekspektasi dalam berperan, dan norma-norma dalam mengekspresikan emosi.
- Bagaimana kita mencerna ekspresi-ekspresi dari penderitaan sesuai konteks berkontribusi banyak pada apakah kita akan bisa ikut merasakan penderitaan, merasakan empati atas penderitaan itu, dan juga pada keinginan untuk bertindak mengurangi penderitaan itu.
- Memperhatikan rasa sakit dan kemampuan kita untuk mengenali orang-orang lain yang merasakan penderitaan dipengaruhi oleh tekanan waktu, tuntutan kinerja, dan juga beban dari hal-hal yang harus diperhatikan, status, dan juga faktor-faktor kontekstual lainnya.
- Faktor-faktor kontekstual seperti kualitas relasi, tingkat kesopanan, dan asumsi-asumsi budaya mengenai nilai dari interdepedensi mempengaruhi seberapa angota organisasi dapat merasakan empati untuk orang lain yang menderita.
- Berbagai tindakan dalam organisasi yang bisa dilakukan untuk mengurangi penderitaan.
- Berbagai keluaran, baik hal-hal berkaitan dengan sumber daya ataupun secara makna bagi organisasi dan anggotanya.
Diadaptasi dari Dutton, Workman & Hardin. Compassion at Work. Annual Review of Organizational Psychology & Organizational Behavior, 1, 277-304. (2014)
Referensi
Emma Seppala et.al. 2017. The Oxford Handbook of Compassion Science.
Monica C. Worline dan Jane Dutton. 2017. Awakening Compassion at Work.