Personal Mastery

Newsletter Ed. II, 2022


Organisasi belajar hanya melalui anggota-anggota organisasinya yang belajar. Pembelajaran individual ini tidak menjamin pembelajaran organisasi. Tapi tanpanya, pembelajaran organisasi tidak akan pernah terjadi.
— Peter Senge

Peter Senge menjelaskan personal mastery sebagai disiplin seseorang untuk secara berkelanjutan memperjelas dan memperdalam visi pribadinya, arah dan cara-caranya menetapkan fokus energinya, mengembangkan kesabaran dan kemampuan memahami realitas secara objektif. Senge menempatkan personal mastery sebagai komponen pertama dari konsep organisasi pembelajar (learning organization) yang dijelaskannya dengan sangat brilian dalam bukunya, The Fifth Discipline of Learning Organization (1990). Senge mengingatkan kita bahwa organisasi yang bisa bertahan adalah organisasi yang bisa belajar lebih cepat dari para pesaingnya. Pondasi untuk mewujudkan itu adalah sumber daya yang ada didalamnya, terutama sumber daya manusia yang mengembangkan personal mastery.

Menurut Senge, personal mastery merupakan suatu disiplin yang didasari oleh dua hal. Pertama adalah upaya untuk secara terus menerus memperjelas hal-hal yang penting bagi kita. Kedua adalah upaya untuk terus menerus belajar untuk memahami realitas saat ini secara jelas dan lebih baik lagi.

Tiga puluh tahun lebih sejak bukunya diterbitkan, pemahaman akan personal mastery ini semakin penting dan mendasar untuk bisa dipahami dan dijalankan oleh para Pemimpin di dunia bisnis saat ini. Di bawah ini adalah pertimbangan-pertimbangannya.

  • Semakin cepat dan tinggi dinamika perubahan, semakin penting untuk secara berkala memperjelas kembali tujuan (visi) kita dan makna untuk mencapai tujuan tersebut (purpose).

 Dalam salah satu sesi coaching yang saya lakukan dengan seorang klien eksekutif, saya bertanya, “Apa yang membuat Anda yakin bahwa sesi-sesi coaching yang akan dijalani ini akan membantu Anda menjadi Pemimpin yang lebih efektif?” Jawaban di putaran pertama biasanya selalu berkisar di tantangan dan tanggung jawabnya saat ini, tekanan perubahan, kebutuhan akan mitra diskusi dan juga upaya untuk mencoba cara berbeda, setelah cara-cara lain yang dia coba tidak berhasil untuk membantunya menjawab tantangannya. Tapi eksplorasi di putaran kedua atau ketiga biasanya akan membawanya sampai pada kegelisahannya yang paling mendasar, yaitu bahwa secara intuitif dia merasa tidak nyaman dengan apa yang dilakukannya (bukan dengan tantangannya), tapi dia belum menemukan apa itu. Atau, dalam versi lain, dia merasa ‘perlu’ melakukan apa yang dia lakukan (itu sebabnya pihak-pihak yang bertentangan dengan dia akan dia hadapi dan tantang dengan gagah berani). Ketika dieksplor lebih jauh, ternyata ‘rasa perlu’ ini berakar dari keyakinan dan prinsip-prinsip hidup yang dipegangnya teguh, tapi tidak sepenuhnya dia sadari.

Ketika dia menyadari hal-hal mendasar yang menggerakkannya itu, segalanya bisa menjadi lebih masuk akal. Kejelasan ini membantunya untuk siap membangun ‘relasi baru’ dengan keyakinannya itu, terutama untuk mengecek relevansinya dengan situasi saat ini, atau mencari cara-cara baru yang lebih baik untuk mewujudkannya. Semua ini bisa dilakukannya dengan lebih semangat dan kreatif, karena dia sudah menemukan ‘rumahnya’, menemukan ‘raison d’etre’ (alasan mendasar) dari eksistensi dan pergulatannya.

Apa yang saya alami bersama klien saya tersebut, saya alami juga bersama klien-klien eksekutif saya yang lain. Pengalaman di level personal ini yang menjadi bekal bagi seorang Pemimpin untuk berani mengecek dan bahkan mempertanyakan ulang dengan sangat kritis, di tengah tantangan perubahan dan semua kerja keras yang dilakukannya: Apakah gerak organisasi ini sudah sesuai dengan visi dan misinya? Apakah semua Pemimpin dan orang kunci di organisasi ini mengerti alasan mereka berjibaku siang malam untuk organisasi ini? Sejauh mana alasan-alasan itu masih valid? Ataukah sebenarnya semuanya hanya sibuk menangkis serangan-serangan masalah dan mempertahankan cara paling efektif untuk mencapai KPI masing-masing? Apakah kita perlu tentukan ulang visi dan misi kita? Apakah yang saya lakukan untuk perusahaan ini cukup berharga dengan semua ‘pengorbanan’ yang saya lakukan?

Pemimpin yang mengembangkan personal mastery dalam dirinya, akan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan jernih dan bernas. Dengan melakukan itu, dia dapat menyatukan kembali semua aspirasi, kelelahan, ketidakpastian dan kegelisahan yang saling bertempur dalam diri Anggota Timnya menjadi satu arah yang jelas, tegas, dan juga bermakna.

Menjadi lincah (agile) bukan sekedar terbuka, fleksibel, tahan banting dan cepat tanggap terhadap perubahan, tapi juga mampu secara berkala mengecek tujuan dan makna dari semua hal yang dilakukan, memastikan semua upaya tersebut mengarah pada tujuan yang tepat dan penting bagi kita. Sekali lagi, bukan sekedar lincah menyelesaikan masalah yang datang bertubi-tubi.

Hampir semua klien yang kami temui mengatakan bahwa mereka kesulitan dengan perubahan yang cepat saat ini karena tim mereka tidak cukup agile. Tapi waktu kami melakukan dialog dengan Anggota Timnya, mereka mengatakan, “Kami lakukan semua yang diminta, tapi pada titik tertentu, kami disorientasi. Untuk apa semua ini? Ya, perusahaan bayar kami mahal, tapi saya tidak lagi melihat makna pentingnya bagi saya, selain capek dan jenuh.”

  • Semakin kompleks situasinya, semakin penting kemampuan memahami realitas secara lebih jernih.

 William Shakespeare pernah mengatakan, “tidak ada yang baik atau buruk, cara pikir kita yang menciptakannya.” Persepsi, keyakinan, prinsip, dan semua hal-hal mendasar yang membuat kita bisa tetap eksis, selamat, dan berhasil, akan menjadi ‘lensa penyaring’ kita dalam memaknai dan menilai realita. Sangat wajar, manusiawi, dan dalam arti tertentu, itulah yang membuat setiap orang itu unik dan eksistensinya menjadi berharga. Di sisi lain, hal itu juga yang membuat kita bisa menjadi begitu subjektif, tidak berimbang, dan bahkan keliru dalam memahami realita, apalagi di tengah dinamika perubahan yang begitu cepat, yang bahkan seringkali sulit kita pahami dan mengerti dari sudut pengalaman-pengalaman yang sudah kita lalui.

Pada titik ini, pemahaman tentang mindfulness, awareness, menjadi sangat penting. Senge tidak mengatakan bahwa kita perlu memahami realitas dengan 100% kejernihan. Saya rasa itu juga tidak mungkin. Tapi bagaimana agar semakin hari kita semakin mampu melihat realita secara lebih jelas. Semakin kompleks dan cepat perubahan yang terjadi, semakin penting kemampuan untuk melihat realita secara lebih jelas. Semakin tinggi kompleksitas sesuatu, semakin dibutuhkan berbagai perspektif untuk melengkapi pemahaman kita tentang realita tersebut.

Di hadapan perubahan dan seluruh kompleksitasnya, kita perlu mengesampingkan ekspektasi kita terhadap pentingnya memiliki Pemimpin yang dominan, yang cara pandangnya mendominasi seluruh perspektif dan keputusan perusahaan. Ini adalah awal bencana. Di hadapan perubahan yang kompleks kita membutuhkan persepsi semua orang untuk melengkapi kepingan-kepingan persepsi menjadi realita yang lebih utuh. Sehingga keputusan yang diambil akan lebih tepat sasaran.

Untuk bisa mewujudkan itu, dibutuhkan individu yang ‘selalu gelisah’ karena walaupun dia punya keyakinan yang jelas tentang siapa dirinya dan tujuannya, dia juga sadar, bahwa pemahaman dia itu belum tentu sepenuhnya tepat dan lengkap. Untuk itu dia perlu secara berkala melakukan cek dan ricek, apakah yang dipahaminya sudah cukup lengkap. Ini adalah prasyarat dasar untuk membangun kapasitas seseorang menjadi adaptif terhadap perubahan. Ini adalah kualitas personal mastery yang perlu dimiliki oleh para Pemimpin dari organisasi yang memilih berhasil secara berkelanjutan dengan membangun organisasi pembelajar.

Para Pemimpin muda saat ini cukup mendominasi perusahaan-perusahaan yang berhasil dengan agresifitas mereka mengembangkan bisnis. Menariknya, semakin eksponensial kecepatan perkembangan bisnis yang mereka pimpin, semakin cepat mereka berpeluang menjadi Pemimpin yang kolot dengan dominasi arahan, sikap ‘telling’ dan ketidaksabaran dalam memimpin. Mereka menjadi lebih ‘tua’ secara lebih cepat. Bukankah ini sebuah paradoks? Menjadi adaptif memerlukan ketekunan dan kesabaran dalam memahami dan mengerti bahwa di hadapan perubahan kita tidak bisa mengendalikan semuanya, tapi kita perlu mengembangkan kemampuan untuk berbagi kendali dengan orang-orang yang akan membantu organisasi kita berhasil.

Berhasil bukan hanya karena target tercapai, tapi berhasil juga dengan rasa syukur yang mendalam karena yang dikerjakannya bermakna juga bagi dirinya. Sebuah energi yang membuatnya siap dan semangat untuk mendedikasikan waktu dan memfokuskan energinya, untuk tantangan-tantangan perubahan berikutnya.

Seberapa pandangan tentang personal mastery ini relevan bagi situasi Anda saat ini? Seberapa Anda dan organisasi yang Anda pimpin sudah berproses untuk membangun kapasitas ini?

 

Shirley Suhenda, PhD, PCC

Dengan gaya autentik dan keandalan coaching-nya, Shirley telah menjadi coach bagi berbagai generasi pemimpin, dari tingkat manajer hingga eksekutif.

Kualitasnya terbentuk dari kombinasi ketajaman akademik dan pemahaman mendalam mengenai kompleksitas pengembangan kepemimpinan di dunia kerja. Hal ini turut menjadikannya sebagai salah satu arsitek terbaik di Principia dalam merancang solusi-solusi kepemimpinan yang disusun khusus agar sesuai kebutuhan klien Principia.

Next
Next

Menavigasi Ruang Kosong di 2022