Menavigasi Ruang Kosong di 2022
Newsletter Ed. II, 2022
“Pertumbuhan pribadi saya berasal dari kerendahan hati yang saya gunakan untuk menavigasi dunia, yaitu dengan rasa hormat terhadap semua pengetahuan di luar sana yang belum saya pelajari, tetapi semuanya tersedia bagi saya.”
Memasuki 2022, situasi masih tidak pasti dan omicron bersiap-siap menghadang. Tapi rasa hati ini berbeda dari setahun dan dua tahun sebelumnya. Semua proses selama 2 tahun ini membawa saya pada pertanyaan ini, “Di 2022 dan seterusnya, pandemi atau tidak ada pandemi, saya mau bagaimana?”
Menavigasi 2022, menavigasi ke arah mana saya mau membentuk diri saya. Ya, bukan perusahaan saja yang perlu menavigasi dirinya di 2022 ini. Saya, dan mungkin juga Anda, juga perlu melakukannya.
Kali ini saya merasa sedikit lebih mantap melangkah, bukan karena ke depan segalanya akan lebih mudah, tapi karena begitu banyak pembelajaran selama 2 tahun kemarin yang bisa diterapkan di 2022. Dua tahun saya serasa dipaksa meleyot-leyotkan diri demi bisa bertahan dan tetap punya akal sehat serta harapan. Tapi dalam proses meleyot-leyotkan diri itu saya juga jadi mengenal diri saya lebih baik, termasuk juga menerima hal-hal yang dulu saya hindari dan tidak mau lakukan (karena tidak nyaman melakukannya atau karena merasa tidak menjadi diri sendiri ketika melakukannya).
Pembelajaran semasa pandemi membuka mata saya, bahwa saya perlu melakukan hal-hal yang dulu saya hindari itu, jika saya ingin keluar dari hidup yang sekedar bertahan. Live and thrive! Saya tidak mau hidup hanya untuk sekedar bertahan. Saya mau hidup yang penuh asa dan daya cipta, walau itu berarti banyak tantangan dan uji coba. Ini bukan soal berapa talenta dan sumber daya yang saya punya. Ini soal pilihan sikap hidup dan pilihan mau meninggalkan dunia ini dalam keadaan seperti apa. Berjuta orang sudah tidak punya pilihan itu karena corona dan teman-temannya. Saya masih punya. Anda masih punya?
Pilihan jauh lebih banyak dari sebelumnya, tapi memang lebih banyak yang sulit. Pilihan yang mudah kebanyakan adalah hal-hal yang sudah biasa saya lakukan di masa-masa sebelum pandemi. Walau berat hati, saya paham, melakukan hal yang biasa saya lakukan akan membuat saya merasa sudah berusaha, tapi tidak memampukan saya bisa menangkap peluang yang ada di depan mata. Peluang apa maksudnya? Ya, peluang yang diberikan oleh ruang kosong di 2022. Sepenuhnya tergantung keputusan saya. Jika saya menjawab “ya”, maka ruang kosong itu akan terisi dengan cara-cara baru yang saya coba. Jika “tidak,” saya juga tidak pernah tahu apa hasilnya. Dia akan tetap menjadi ruang kosong bagi saya. Ruang kosong itu tidak akan diambil oleh orang lain, karena setiap orang akan memiliki ruang kosongnya sendiri.
Ruang kosong yang saya maksud adalah semesta yang tak (belum) bertuan, masih penuh perubahan dan ketidakpastian, yang mengundang kita untuk mengisinya dengan cara-cara berbeda dan baru, sebagai bagian dari upaya eksplorasi dan eksperimen kita untuk terbuka membentuk dan mencipta diri, walau hasil tidak sepenuhnya pasti. Apakah Anda kenali ruang kosong Anda di 2022?
Satu hal yang saya yakini, bagi kita yang masih hidup di tahun 2022 ini, seolah diberikan kesempatan untuk ‘reset’ mentalitas dan cara berpikir kita, dengan modal pembelajaran dari yang sudah dilalui, dan menarasi ulang masa depan yang ingin kita raih dari pembelajaran itu. Tentunya pilihan ini ada jika kita terbuka pada berbagai alternatif yang tersedia, maupun yang akan datang sebagai ‘surprise’. Kita diundang untuk tidak sekedar menjadi a good problem solver.
Seorang pemecah masalah yang cerdas biasanya memiliki kapasitas yang baik untuk mengantisipasi situasi yang ada dalam lingkaran kendalinya. Namun, bagaimana jika situasinya memiliki lebih banyak komponen yang berada di luar lingkaran kendali? Dibutuhkan seorang pencipta, an inventor. Siapkah saya menjadi ‘inventor’ bagi diri saya sendiri? Siapkah Anda menjadi ‘inventor’ bagi diri Anda sendiri? Siapkah kita saling berbagi ruang kosong kita dan mencipta bersama?
Pilihan begitu nyata. Keputusannya susah-susah gampang, dan keputusan saya akan menentukan, saya akan menjadi apa nantinya. Termasuk jika saya memutuskan tetap kembali ke cara-cara saya yang lama. Bahkan di usia saya yang mendekati setengah abad, nyebelinnya, hal seperti ini masih menjadi dilema. Ketika kesibukan mendominasi hari-hari, pemikiran seperti ini suka numpang lewat, tapi segera diterjang keluar oleh deadline dan semua target pekerjaan.
Dua tahun pandemi, kesibukan tetap ada dan seringkali tidak berkurang. Namun, banyaknya momen kematian dan keberkahan membuat waktu serasa melambat dan mendesak-desak kewarasan saya untuk memikirkan ulang hal-hal yang selama ini diyakini. Siapkah saya menciptakan jalan-jalan baru bagi diri saya di ruang kosong 2022? Di tengah ketidakpastian yang ada, satu-satunya kepastian yang berada dalam kendali saya adalah keputusan saya untuk memilih.
Baiklah… saya sudah memilih. Siapkah Anda untuk juga memilih? Bisakah kita saling berbagi ruang kosong itu dan mencipta bersama?