The Neuroscience of Change

The Will, The Way, and The Won’t

Newsletter Ed. IV, 2021


I love to learn, but I hate to be taught.
— Sir Winston Churchill

Apakah orang dewasa masih bisa berubah? Jika ya, apa yang membuat perubahan perilaku sering kali sangat sulit? Apa yang perlu kita pahami dari neuroscience, agar bisa menjalani perubahan lebih mudah, baik untuk diri sendiri, maupun untuk membantu orang lain, agar bisa melakukan perubahan yang diinginkan? Newsletter kali ini akan mendiskusikan ketiga pertanyaan di atas, dan mencoba menjawabnya dari perspektif neuroscience.

 

Pertanyaan Pertama: “Apakah Orang Dewasa Masih Bisa Berubah?“

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu memahami konsep neuroplasticity. Dr. Sarah McKay, seorang neuroscientist lulusan Oxford University, merumuskan neuroplasticity sebagai berikut ini.

Neuroplasticity merupakan perubahan-perubahan dari perilaku sampai ke ekspresi genetis, dan segala sesuatu yang bersifat ‘neural’, yang terjadi di antaranya. Hal ini bisa berarti berbeda bagi terapis dan peneliti yang berbeda.“[1]

Dalam bukunya, The Principles of Psychology (1890), William James sudah menggunakan istilah plasticity dalam konteks perilaku. Namun, baru sekitar 30 tahun terakhir ini ilmuwan mendapat banyak pemahaman baru mengenai sifat plastisitas otak manusia. Hal ini terutama berkat integrasi studi psikologi dan neuroscience, dan kemajuan teknologi alat kedokteran seperti fMRI dan PET scan, yang memungkinkan para ilmuwan melakukan penelitian canggih, yang datanya kemudian dianalisa dengan bantuan komputer.

McKay juga mencatat bahwa, di tingkatan penelitian dasar, Michael Merzenich, penerima penghargaan bergengsi dalam kajian neuroscience, Kavli Price, di tahun 2016, menyimpulkan hal-hal yang sangat ambisius mengenai neuroplasticity, antara lain:

“Plastisitas ada sejak kita bayi sampai kita meninggal, dan perbaikan-perbaikan yang radikal dalam fungsi kognitif—bagaimana kita belajar, berpikir, mempersepsikan, dan mengingat, semuanya mungkin dimiliki bahkan bagi yang berusia lanjut.”[2]

Peneliti yang juga memberikan kontribusi besar dalam bidang ini dan populer di kalangan awam adalah Norman Doidge. Dalam bukunya yang populer, The Brain That Changes Itself (2007), Doidge menyatakan bahwa konsep neuroplasticity merupakan sebuah terobosan terpenting dalam usaha memahami otak manusia, yang terjadi selama kurun waktu 400 tahun belakangan ini. Jadi, jawaban pertanyaan pertama adalah, “Ya! Orang dewasa tetap bisa berubah dan ini didukung dengan penelitian dari neuroscience.”

 

Pertanyaan Kedua: “Apa yang Membuat Perubahan Sering Kali Begitu Sulit?“

Neuroscience memberikan penjelasan mengenai mengapa perubahan bisa sangat sulit. Yang pertama berkaitan dengan memory dan hubungannya dengan conscious attention. Pada saat kita menghadapi sesuatu hal baru, maka bagian working memory menjadi sangat sibuk. Sebagai contoh, jika Anda mengendarai mobil di daerah baru untuk pertama kalinya, maka bagian working memory sangat sibuk mengaktifkan bagian otak prefrontal cortex (PFC). Kegiatan ini membutuhkan energi yang intensif dan melelahkan, sehingga Anda membutuhkan dorongan motivasi tinggi untuk melakukannya.

Kita mengenal beberapa macam model perubahan perilaku dari ilmu psikologi. Di sini kami menggunakan kerangka yang diusulkan oleh Elliot Berkman, yang memudahkan kita untuk memahami korelasi antara perilaku baru dengan fungsi kognitif dan afektif otak kita. Dengan memahami uraian Berkman, kita bisa lebih memahami apa yang terjadi dalam otak kita dan apa yang perlu kita pertimbangkan untuk memfasilitasi sebuah proses perubahan.

Menurut Berkman, sebuah perilaku memiliki dua dimensi. Dimensi pertama berkaitan dengan keterampilan, kapasitas, dan pengetahuan untuk melakukan sesuatu. Ini termasuk pemetaan langkah-langkah yang diperlukan, keterampilan untuk eksekusi, dan proses kognitif, seperti fokus pada apa yang sedang dikerjakan dan kapasitas memori. Dimensi pertama ini dinamakan Cara (Way). Dimensi kedua adalah kemauan atau motivasi untuk melakukan, dinamakan Kemauan (Will).

Gambar 1. Klasifikasi 4 macam perilaku menurut 2 dimensi Way atau Cara dengan Will atau Kemauan (Berkman, 2018).

Mari kita diskusikan 4 kuadran ini satu per satu.

Mulai dengan kuadran kiri bawah, contoh dalam organisasi misalnya, menjalankan sebuah proses bisnis yang sudah cukup rutin, seperti melakukan wawancara kualifikasi untuk proses rekrutmen awal. Perilaku yang tidak membutuhkan keterampilan tinggi dan juga tidak memerlukan motivasi tinggi. Proses ini banyak dilakukan di bagian otak basal ganglia.

Basal ganglia adalah bagian otak yang terlibat dengan hal rutin, seperti misalnya, saat Anda mengantar anak ke sekolah. Hal ini sudah rutin Anda lakukan dengan tanpa memberikan banyak perhatian secara sadar, karena Anda sudah biasa melakukannya. Ada kalanya Anda malahan lupa sudah mengantar anak pagi ini (!). Kegiatan ini tidak memerlukan banyak energi, jauh lebih sedikit dibandingkan dengan energi yang dibutuhkan working memory saat melakukan fungsi-fungsi eksekutif.

Banyak yang dilakukan oleh orang dalam organisasi sudah menjadi sebuah kebiasaan yang diatur dari basal ganglia dan bukan PFC. Jika kebiasaan ini akan diubah, maka diperlukan keterlibatan PFC yang membutuhkan banyak usaha dan energi. Hal ini berakibat tidak nyaman bagi banyak orang. Menghindari ketidaknyamanan bisa menjadi alasan untuk menghindari perubahan. Kuadran ini disebut The Won’t oleh Berkman. Kuadran yang menghambat perubahan.

Kuadran kanan bawah adalah perilaku yang tidak membutuhkan keterampilan dan pengetahuan tinggi, namun untuk melakukannya dibutuhkan motivasi tinggi. Dalam contoh rekrutmen, mungkin wawancara yang offline saat pandemik ini. Bagian otak yang terlibat dalam proses motivasi adalah sistem dopamin dan jaringan limbik.

Berikutnya, kuadran kanan atas, yaitu proses yang membutuhkan tingkat keterampilan tinggi dan motivasi tinggi untuk melakukannya. Sebagai contoh, proses seleksi yang sebagian besar baru mulai dilakukan secara komputerisasi. Di awalnya, proses ini membutuhkan peningkatan kognitif, mengambil banyak energi dari PFC karena perlu belajar hal-hal baru dari proses komputerisasi. Karena banyak hal baru dan ketidakpastian, maka bagian limbik otak akan ikut teraktifkan. Energi banyak yang teralihkan ke limbik, akibatnya PFC kurang mendapat asupan sehingga kewalahan untuk mempelajari hal-hal baru.

Jika proses ini sudah cukup lama dijalankan dan sudah termasuk proses yang mulai rutin dilakukan, bersama-sama dengan yang lain (tidak sendirian, ada dukungan kelompok atau komunitas), maka meskipun membutuhkan keterampilan tinggi, tidak membutuhkan tingkat motivasi tinggi untuk melakukannya. Meskipun demikian, prosesnya tetap membutuhkan aktivitas di PFC. Namun PFC mendapatkan asupan optimal karena dalam situasi ini bagian limbik tidak teraktifkan. Ini adalah kelompok perilaku yang masuk dalam kuadran kiri atas.

 

Pertanyaan Ketiga: “Apa yang Perlu Kita Pahami dari Neuroscience Agar Bisa Menjalani Perubahan Lebih Mudah?”

Bagaimana pemahaman di atas dapat membantu kita dalam melakukan perubahan untuk diri sendiri dan orang lain?

Pertama-tama, pahami di mana tantangan perubahan terbesar. Pemimpin bisa melakukan diagnosa, sifat perubahan, dan melakukan identifikasi dalam hal apa saja perilaku baru yang ditargetkan berbeda dengan pola lama. Apakah dibutuhkan keterampilan baru? Bagaimana motivasi dari tim yang melakukan perubahan? Mengikuti diagram empat kuadran di atas, tentukan apakah pergerakan perubahan ke arah atas, atau ke kanan, atau ke kanan sekaligus ke atas. Langkah selanjutnya adalah menentukan keterampilan dan motivasi yang dibutuhkan.

Mengubah perilaku yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang ditentukan adalah sulit. Neuroscience tidak membuatnya lebih mudah, namun bisa memberikan penjelasan mengapa hal itu sulit dengan menguraikan apa yang terjadi di level bagian otak.

Saat ini, para pemimpin mempunyai akses lebih banyak dan mudah untuk memahami neuroscience. Di Principia, kami menamakan proses ini sebagai Neuro Education. Dengan pemahaman neuroscience yang memadai, para pemimpin yang menjalankan proses perubahan di organisasi bisa memahami perubahan di bagian otak, sehingga mampu melakukan perencanaan dan mitigasi lebih tajam pada saat memfasilitasi sebuah perubahan, sehingga perubahan di organisasi tersebut bisa menjadi perubahan yang dilakukan secara sukarela, “self directed neuroplasticity”[3] oleh para anggotanya. Jika ini bisa terjadi, maka inilah salah satu sumbangsih besar neuroscience bagi organisasi-organisasi yang akan melakukan perubahan.


Catatan Kaki

  1. “Neuroplasticity refers to changes from behavior to gene expression, and everything ‘neural‘ in between. It means different things to different researchers and therapist.“ (McKay, 2020).

  2. “That plasticity exists from cradle to the grave, and that radical improvements in cognitive functioning—how we learn, think, perceive, and remember are possible even in the elderly.“ (McKay, 2020).

  3. Istilah ini dibuat oleh Dr. Jeffrey Scwartz, dalam Coaching with The Brain in Mind, Rock dan Page, 2009, hlm. 18.

 

Referensi

  • Berkman, Elliot. (2018). The Neuroscience of Goals and Behavior Change. Consulting Psychology Journal.

  • McKay, Sarah. (2020). Applied Neuroscience of Brain Health: Change. Sydney: The Neuroscience Academy.

  • Rock, David dan Linda Page. (2009). Coaching with The Brain in Mind. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.


Henk T. Sengkey

Founder Principia. Salah satu pelopor leadership development di Indonesia. Hal ini dimulai dengan membawa Stephen Covey (7 Habits of Highly Effective People) ke Indonesia pada 1991. Dalam 10 tahun terakhir, Henk melakukan coaching bagi pemimpin-pemimpin senior di organisasi finansial, ritel, farmasi, konsultan, dan masih banyak lagi.

Kombinasi kekuatan-kekuatan karakternya, yaitu rasa keingintahuan, perspektif, dan inteligensi sosial, dengan tingkat kematangannya dalam berpikir, menjadi Henk sebagai coach yang sangat diandalkan oleh kliennya.

Previous
Previous

Menavigasi Ruang Kosong di 2022

Next
Next

Menakar Posisi Compassion dalam Organisasi Bisnis