Menakar Posisi Compassion dalam Organisasi Bisnis
Seberapa Besar Urgensinya Menempatkan Compassion sebagai Bagian Mendasar dan Strategis dari Budaya Kerja Organisasi Bisnis?
Newsletter Ed. III, 2021
“Compassion atau welas asih merupakan perasaan dan dorongan untuk meringankan penderitaan yang lain.”
Cerita-1. Seorang teman yang sedang menjalankan isoman (isolasi mandiri) karena terdeteksi positif COVID-19 menceritakan kepada saya tentang perilaku teman-temannya yang bergantian mengirimkannya makanan selama dia isoman. Ketika teman saya itu meminta mereka menghentikan upayanya, dia malah diprotes. Kata mereka, "Tidak apa, ini sekalian kita membantu orang-orang yang jualan, tidak banyak, tapi jika bisa, lumayan kita bisa kontribusi menjaga asa di tengah ekonomi Indonesia yang terpuruk saat ini karena pandemik." Teman saya langsung terdiam dan tidak lagi protes. Ketika sudah sembuh, dia meneruskan hal yang sama untuk teman-temannya yang lain, tanpa peduli yang diberinya itu positif COVID-19 atau tidak. Alasannya? "Yang penting kita bisa ikut menggerakkan ekonomi, walau hanya untuk menyambung harapan di hari ini."
Apa yang dilakukan teman saya itu bukan hal yang aneh di tengah pandemik ini. Banyak pihak saat ini sudah melakukannya sejak awal masa pandemik setahun silam. Memang, saya belum bisa memberikan dasar bukti ilmiah untuk kata 'banyak' ini, tapi bagi yang memiliki medsos, hal seperti ini merupakan berita biasa, di tengah berita-berita luar biasa tentang angka penderita positif COVID-19 yang terus meroket setiap hari.
Solidaritas masyarakat Indonesia di saat sulit sudah terbukti berkali-kali menyelamatkan ekonomi bangsa kita. Pemerintah saja memang tidak sanggup melakukannya. Bagi saya, hal ini menunjukkan bahwa, transaksi ekonomi — jual beli — di antara stranger, orang yang tidak saling mengenal, bisa bermuara pada kebaikan dan motif di luar kepentingan—diri yang egois, ketika para pihak yang terlibat transaksi digerakkan oleh satu misi yang sama, yaitu mengurangi penderitaan satu sama lain, dengan keyakinan, bahwa memang diperlukan kerja sama semuanya untuk saling membantu.
Cerita-2. Ketika sedang mempersiapkan materi webinar tentang "Mindfulness at Workplace" di Juni kemarin, tim Principia menemukan bahwa beberapa perusahaan besar dunia mulai memberikan program 'mindfulness' kepada karyawannya, dengan tujuan agar para karyawannya bisa lebih baik mengelola fokus dan energi mereka (Mindfulness in The Workplace, Stanford Business Graduate School, 2019)[1]. Ukuran keberhasilan program ini dilihat dari peningkatan peserta program yang tidurnya berkualitas, stress menurun dan karenanya produktivitas meningkat. Ini pertanda apa?
Bagi yang skeptis, mungkin akan mengatakan, "Perusahaan akan lakukan berbagai cara yang ampuh agar karyawannya produktif. Apa pun cara yang mungkin, selama tujuannya menguntungkan." Saya tentu saja kuat menentang pandangan transaksional ini. Perusahaan yang melakukan ini demi alasan transaksional berarti kurang memahami betul dampak mendalam dari intervensi program 'mindfulness'. Intervensi 'mindfulness' tidak hanya berdampak di level perilaku kita, tapi dalam banyak hal, terutama pada cara kita menghayati keberadaan kita di dunia, bersama yang lain, secara sadar dan penuh. Sebenarnya ini suatu upaya 'slowing down' dengan memperkuat 'kesadaran' di tengah dunia bisnis yang bergerak cepat, yang dampaknya justru akan membangun kelincahan kita dalam menjawab tantangan bisnis yang tinggi dan cepat tingkat perubahannya. Intervensi 'mindfulness' merupakan bentuk nyata inisiatif compassion di organisasi bisnis.
Jadi kenapa perusahaan-perusahaan besar itu melakukannya? Menurut saya, karena mereka mengikuti perkembangan ilmu tentang manusia. Dalam beberapa dekade terakhir, ilmu tentang manusia berkembang sangat pesat. Pemahaman sempit tentang Homo economicus[2], yaitu konsep manusia sebagai pelaku ekonomi, yang dalam relasi ekonominya diasumsikan hanya digerakkan secara rasional oleh kepentingan dirinya semata untuk mencari kekayaan, memang masih saja menjadi asumsi yang membayangi para pelaku ekonomi. Namun, dalam realita keseharian, asumsi itu sudah tidak sahih. Cerita 1 di atas menggugurkan asumsi Homo economicus.
Social Entrepeneurship merupakan bukti lain dari tidak lengkapnya asumsi Homo economicus. Para pengusaha dengan misi ekonomi-sosial ini bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat lewat aktivitas ekonominya[3]. Kebanyakan misi mereka diawali untuk meringankan penderitaan kelompok masyarakat tertentu. Kemudian menjadi besar, bukan hanya disebabkan oleh simpati besar dari masyarakat luas yang kemudian berbondong-bondong mendukung dengan menjadi konsumen mereka, atau bahkan menjadi investornya, tapi karena mereka kemudian mengelola usaha mereka dengan baik, menurut kaidah-kaidah praktik ilmu bisnis, manajerial, operasional yang diadaptasi sesuai konteks dan kebutuhan bisnis bervisi sosial tersebut. Profit sudah tentu saja harus terjadi, tapi fokus mereka juga pada bagaimana bisa mendapatkan profit dengan cara yang meringankan penderitaan dan sekaligus memberdayakan masyarakat sasaran. Upaya-upaya ini tentu saja tidak mulus, tapi sudah menjadi model bisnis alternatif yang banyak dilakukan. Coba Anda lihat di lingkungan sekitar, di medsos, dan juga googling tentang 'social entrepeneruship'. Data dan fakta akan membantu Anda memahami hal ini dengan lebih baik.
Cerita-3. Sudah sepuluh tahun lebih kami di Principia melakukan program coaching kepada klien-klien kami. Kami bertemu dengan para pemimpin perusahaan yang secara sadar memilih untuk mendapatkan hasil berkelanjutan lewat pengembangan sumber daya manusia yang lebih integratif. Mereka sadar, sekedar relasi transaksional di tempat kerja tidak akan membuat mereka kuat dalam jangka panjang. Mereka bermitra dengan kami untuk membuka simpul-simpul cara berpikir para pemimpin yang kaku dan sempit, yang cenderung melihat anggota tim sebagai sarana mencapai tujuan, menjadi pola pikir yang lebih terbuka dan empatik, bahwa tim mereka adalah manusia yang punya asa, hati, jiwa, bernilai untuk berkembang dan dikembangkan secara utuh di tempat kerja.
Bahwa kami, dan banyak lagi perusahaan seperti kami, masih eksis, adalah bukti bahwa Homo economicus, asumsi bahwa manusia dalam relasi ekonomi hanya digerakkan oleh kepentingan-diri yang egois saja, sudah tidak memadai lagi dalam menjelaskan gerakan manusia-manusia modern yang mulai memberontak terhadap pendekatan yang mengotak-ngotakkan manusia dalam perannya.
Kesadaran untuk bisa menjadi penuh dan utuh, dalam semua peran yang dilakukan sudah menjadi kesadaran dan kebutuhan mendasar manusia modern. Generasi milenial menjadi promotor kebutuhan ini dan berselisih dengan para atasannya ketika para atasannya menanggapinya dengan rasionalisasi praktis yang sempit, yaitu "kehidupan dunia kerja yang memang tidak bisa menghindari dari fragmentasi peran; menjadi profesional sering kali berarti kita tidak bisa selalu menjadi diri sendiri".
Di sisi lain, perlu disimak, kajian tentang pengembangan manusia sudah begitu maju dan berhasil melahirkan cara-cara baru yang efektif agar manusia berdaya untuk hidupnya yang lebih integratif ketika menjalankan berbagai perannya. Memang, kecepatan kemajuan ilmu ini tidak dengan cepat bisa diserap oleh organisasi bisnis, tapi lebih cepat diserap oleh dunia pendidikan. Hasil temuan-temuan baru tentang manusia dalam 20 tahun terakhir di bidang psikologi positif, neuroscience, interpersonal neurobiology, dan kajian terkini lainnya sudah mulai diterapkan di dunia pendidikan, bahkan untuk anak-anak sekolah dasar. Mungkin itu sebabnya para generasi milenial memasuki dunia kerja dengan semangat menggebu-gebu untuk mendapatkan aktualisasi dirinya. Gap ini bukan hanya sekedar gap generasi, tapi gap pemahaman yang disebabkan oleh latar belakang nilai-nilai pendidikan dan pengembangan manusia. Jika organisasi bisnis tidak mau mengalami kontraksi yang terlalu besar dengan para generasi milenial, organisasi bisnis pun perlu membuka diri pada kajian-kajian terbaru tentang manusia ini.
Jika ada yang mengatakan, "Pada akhirnya, kekuatan modal, uang yang bicara. Selama kita punya dana, biarkan saja anak-anak muda itu keluar masuk. Mereka yang harus turut kemauan kita, kita yang lebih berpengalaman dan mengerti menjalankan bisnis ini." Sikap ini mungkin akan membantu Anda bertahan sebentar saja. Sambil melakukan itu Anda akan kehilangan waktu dan tenaga untuk membangun generasi penerus dari pasukan pekerja Anda. Di sisi lain, saya juga memahami bahwa banyak proses dan langkah pembenahan yang perlu ditempuh oleh organisasi bisnis untuk menerima nilai-nilai baru tentang manusia yang utuh, dan secara konkrit menerapkannya dalam membangun budaya kerja mereka. Melakukan adaptasi ini sangat sulit, terutama jika hal itu hanya dilihat dari sisi kompetensi interpersonal saja, dan menyerahkannya pada pilihan personal tiap individu. Tapi melakukan adaptasi ini akan lebih mudah dan kuat dampaknya jika organisasi bisnis melihatnya sebagai hal yang fundamental dan strategis dari budaya kerja organisasi[4].
Tujuan Tulisan Ini. Tulisan ini mau mengatakan, bahwa organisasi bisnis punya pilihan, mau beroperasi dengan cara berpikir kuno ala Homo economicus, atau maju sesuai dengan kemajuan ilmu tentang manusia yang semakin integratif, yang menemukan bahwa compassion merupakan kekuatan maha dasyat, yang bisa mengikat semua kepentingan dari berbagai orang asing yang tidak saling mengenal, mengabaikan perbedaan, melakukan transaksi jual beli, demi terwujudnya kehidupan bersama yang lebih baik. Hal ini terutama sering terjadi di masa-masa sulit. Kenapa tidak mengembangkan kapasitas melakukan compassion di masa-masa 'damai'?
"Tindakan compassion atau keutamaan yang fokus pada upaya untuk meringankan penderitaan orang lain itu kan topik diskusi di ranah spiritual dan moral, di lingkup kerja kemanusiaan, dan pastinya bukan dalam dunia bisnis!" Ya, itu pola pikir lama. "Sekarang juga masih ada!" Ya, tentu saja. Sampai sekarang pun masih ada orang yang diperlakukan dengan tidak adil karena agamanya, walau piagam hak asasi manusia di tahun 1948 sudah menetapkan bahwa setiap orang bebas memeluk agama apa pun yang diyakininya.
Saya tidak mengatakan dunia bisnis sekarang sudah bersih dari relasi transaksional yang mengedepankan keuntungan di atas segala-galanya. Tidak ada maksud menyatakan hal seperti itu. Saya cuma mau membagikan fakta bahwa paham dunia bisnis yang maju dengan berlandaskan premis manusia Homo economicus sudah tidak sahih dalam banyak level.
Di level premis, tidak berlaku. Di level kajian tentang motivasi manusia, tidak berlaku. Di level praksis, juga tidak lagi berlaku, karena sudah banyak contoh bagaimana compassion sebagai penggerak utama motif tindakan para pelaku ekonomi juga bisa membangun organisasi bisnis yang tangguh, luar dalam. Bahkan di level strategis, yang menempatkan compassion sebagai bagian dari strategi organisasi, justru terbukti bisa membuat organisasi lebih tangguh dan tentunya juga tangguh secara nilai-nilai ekonomi yang sehat.
Menempatkan compassion sebagai bagian strategis dari organisasi memang mensyaratkan suatu cara pandang yang sama sekali berbeda tentang organisasi bisnis dan manusia yang menjadi para penggerak di dalam organisasi tersebut. Melakukan ini memerlukan kapasitas dan pola pikir yang lebih kompleks, kreatif, autentik, dan sekaligus kompeten di bidang keahlian profesi masing-masing (sesuai bidang keahlian dan industrinya) sehingga compassion bisa diartikulasikan secara baik lewat keputusan, kebijakan, proses kerja, dan bahkan keputusan strategis perusahaan.
Sulit? Ya, bisa jadi sulit bagi sebagian orang, tapi bukannya tidak mungkin.
Jadi, bagaimana menurut Anda? Bagaimana kesiapan Anda menempatkan compassion sebagai bagian penting dan strategis dari budaya kerja organisasi bisnis yang Anda pimpin? Apakah compassion layak dirawat dan dikembangkan sebagai pondasi yang mengikat seluruh energi organisasi Anda dalam mencapai tujuan-tujuan pentingnya?
Referensi
Mindfulness in The Workplace (Stanford Business Graduate School, 2019) merupakan tulisan yang memaparkan tentang hasi studi tentang 4 organisasi yang menjalankan program mindfulness berbasis meditasi, yaitu LinkedIn, Aetna, Intuit, dan U.S. Forest Service dengan hasil yang secara positif berdampak meningkatkan kesejahteraan, kinerja, dan produktivitas karyawan.
Homo economicus merupakan suatu konsep yang banyak dipakai oleh para pemikir ekonomi sejak abad 19, untuk menjelaskan motivasi dan perilaku manusia dalam relasi ekonomi. Dalam perkembangannya, konsep ini banyak dipakai sebagai dasar untuk menjelaskan pilihan-pilihan rasional sempit dalam transaksi ekonomi. Walau konsep ini sudah banyak dikritik, namun asumsi-asumsi yang mendasarinya masih sering membayangi pemikiran manusia modern tentang relasi ekonomi, dan karenanya tanpa sadar membatasi imajinasi para pemimpin organisasi bisnis dalam merancang organisasi bisnis yang keluar dari pola pikir mencari keuntungan dengan cara-cara yang paling efisien dan efektif.
Kajian dan praktik social entrepreneurship berkembang cukup pesat di Indonesia, dan masuk sampai ke basis agama. Perkembangan sekaligus menunjukkan bahwa model bisnis yang berbasis profit semata tidak lagi menjadi model bisnis yang menarik dan juga bukan satu-satunya model bisnis yang valid.
Tentang bagaimana perusahaan menempatkan compassion sebagai bagian strategis dari organisasi bisa dibaca di Principia Newsletter Ed. VII, 2019 (https://principialearninglab.com/newsletter/201907).