Menerapkan Mindfulness Di Tempat Kerja

Newsletter Ed. II, 2021


Mindfulness berarti memberikan perhatian dengan cara tertentu: pada tujuan (purpose), pada saat ini, dan tanpa menghakimi.
— Jon Kabat-Zinn
nl2021ii.jpg

Pengantar

Topik mindfulness kelihatannya sangat populer beberapa tahun belakangan ini. Majalah TIME edisi 3 Februari 2014 menjadikannya sebagai laporan utama dengan judul, The Mindful Revolution: The Science of Finding Focus in a Stressed-out, Multitasking Culture.[1] Majalah Inc. edisi 12 Juni 2017 juga memberitakan inisiatif menerapkan mindfulness di tempat kerja dengan judul: Why Google, Nike, and Apple Love Mindfulness Training, and How You Can Easily Love It Too.[2] Berbagai aspek mindfulness dibahas dalam laporan ini.

Di Inggris juga diberitakan program mindfulness yang dijalankan secara serius di 370 sekolah. Aktivitas mindfulness yang diadakan di sekolah-sekolah ini merupakan bagian dari penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan bukti-bukti baru dalam mengembangkan kesehatan mental dan well-being para murid-muridnya.[3]

Di Indonesia belum banyak terdengar aplikasi mindfulness yang cukup serius di tempat kerja. Namun awal tahun ini Sudhamek AWS, CEO dari Garudafood menuliskan buku Mindfulness Based Business (MBB): Berbisnis dengan Hati. Bukunya menceritakan mulai dari saat beliau berkenalan dengan konsep MBB dan bagaimana ia mencoba menerapkannya dalam beberapa organisasi yang beliau kembangkan.

Apa yang Kami Maksud dengan Mindfulness

Konsep mindfulness yang banyak dikembangkan selama ini terutama berasal dari pemikiran dan praktik agama Buddha. Konsep ini menjadi populer dalam konteks non-religius pada tahun 70-an ketika diperkenalkan oleh Herbert Benson, ahli jantung dari Harvard yang juga pendiri Harvard Mind/Body Medical Institute. Beliau adalah pionir dalam penelitian mindfulness yang menggunakan biomarker dan juga self-reported measures.

Jon Kabat-Zin Ph.D, Doktor bidang biologi molekuler dari MIT yang pada saat ini berafiliasi dengan University of Massachusetts Medical School amat berjasa dalam menerjemahkan konsep mindfulness dari agama Buddha dalam konteks sekular dengan program MBSR (Mindfulness Based Stress Reduction), yang pertama kali dijalankan di basement Mass General Hospital di tahun 1979. MBSR kemudian menjadi acuan dari berbagai program lainnya, seperti MBCT (Mindfulness Based Cognitive Therapy).

John Kabat-Zinn merumuskan mindfulness sebagai:

Kesadaran yang muncul dari memberi perhatian pada tujuan, di saat ini, dan tanpa menghakimi terhadap setiap pengalaman-pengalaman yang terungkap.
— Kabat-Zinn, 2013

Sejak diperkenalkan ke masyarakat umum dan dunia pengobatan di barat akhir tahun 70-an, mindfulness telah mendapat peningkatan perhatian amat besar dari dunia akademis selama kurang lebih 10 tahun terakhir ini. Peningkatan terjadi baik dalam aplikasi klinis maupun non-klinis. Sebagai contoh, berbagai program pelatihan telah dikembangkan dan diuji dengan menggunakan target populasi berbeda.

Neuroscience dan Mindfulness

Sangat menakjubkan melihat perhatian dunia neuroscience terhadap topik mindfulness.

Beberapa faktor yang patut disebutkan pertama-tama adalah peran Dalai Lama dalam mempromosikan penelitian secara ilmiah untuk melakukan validasi pada efek meditasi terhadap otak manusia. Selain itu juga perkembangan pesat dalam neuroscience sendiri, terutama konsep neuroplasticity dan pemahaman Default Mode Network (DMN) yang disertai dengan kemajuan teknologi alat kedokteran, terutama fMRI.

Dalam perkembangannya di dunia barat, Dalai Lama telah berperan besar mendorong penelitian secara ilmiah untuk menjawab pertanyaan mengenai dampak meditasi mindfulness terhadap fisiologi otak. Usaha beliau antara lain mensponsori penelitian dari Prof. Richard Davidson yang memimpin Laboratory for Affective Neuroscience di Universitas Wisconsin, Madison, terhadap sejumlah pendeta Buddha yang telah melakukan praktik meditasi selama belasan tahun. Dalai Lama juga menjadi inspirasi awal terbentuknya CCARE (Center for Compassion and Altruism Research and Education) di Stanford University.

Di tahun 1987, Dalai Lama memulai dialog pertama dengan para ilmuwan barat di kediaman resminya Dharamsala yang berlokasi di kaki gunung Himalaya, bagian India Utara. Dialog ini difasilitasi oleh Mind & Life Institute yang ternyata memberikan sangat banyak kontribusi pada perkembangan penelitian mindfulness secara ilmiah. Sampai saat ini Mind & Life Institute tetap konsisten dan teratur melakukan dialog-dialog dengan para ilmuwan barat membahas berbagai topik aktual dunia.

Memulai Mindfulness di Tempat Kerja

Bagaimana persisnya penerapan mindfulness di organisasi? Apa yang perlu kita lakukan? Kami memilih perusahaan asuransi global Aetna sebagai contoh kasus. Program mindfulness dimulai di Aetna pada tahun 2011 pada saat Mark Bertolini menjadi CEO.

Bertolini mempunyai pengalaman pribadi yang sangat berkesan dengan praktik mindfulness, ketika beliau mengalami kecelakaan di tahun 2004 yang berakibat penderitaan sakit yang kronis. Pengobatan konvensional tidak banyak menolong sehingga beliau kemudian mencoba pengobatan melalui yoga dan meditasi mindfulness yang ternyata banyak meringankan penderitaannya.

Aetna melakukan pilot program di tahun 2011 dan di tahun 2012 diimplementasikan secara menyeluruh. Di tahun 2018, lebih dari 10.000 karyawan Aetna telah menyelesaikan program eMindful (versi virtual MBSR dari Jon Kabat-Zin).

Program ini secara garis besar dijalankan sebagai berikut:

  • Kelas live-online 1 jam per minggu selama 12 minggu

  • Praktik mindfulness harian

  • Evaluasi sebelum dan sesudah program

Berikut hasil program ini di tahun 2012 dan hasil ini secara konsisten juga tercapai pada tahun-tahun berikutnya:

  • 28% penurunan level stress

  • 20% peningkatan kualitas tidur

  • 19% penurunan tingkat kesakitan (pain level)

  • 44 menit pertambahan waktu produktif di tempat kerja

Di bulan Februari 2016, Aetna merekrut Andy Lee sebagai Chief Mindfulness Officer. Andy Lee kemudian bekerja sama dengan Cheryl Jones, Director of Mindfulness, memulai program Mindfulness Challenge di bulan Juni 2016 yang bertujuan meningkatkan dampak mindfulness ke tingkat budaya organisasi.

Kesimpulan

Faktor kunci yang mendorong penerimaan mindfulness secara meluas:

  • Sekularisasi: Jon Kabat-Zinn bersama koleganya di University of Massachusetts Medical School berhasil menawarkan kearifan yang selama ribuan tahun dipraktikkan secara eksklusif dalam konteks agama Buddha dalam bentuk sekular sebagai pelatihan mental.

  • Perkembangan ilmu pengetahuan, terutama neuroscience dan teknologi alat kedokteran (fMRI).

  • Leadership dari pemimpin organisasi seperti Google, Aetna, dan lainnya yang berani mengambil langkah besar membawa pengalaman pribadi mereka ke dalam organisasi dengan tujuan menjadikan mindfulness sebagai bagian budaya organisasi mereka.

Bagaimana dengan organisasi Anda? Apakah mindfulness sudah mendapatkan tempat dalam pembentukan budaya organisasi Anda saat ini?

nl2021ii-infographic.png

  1. https://time.com/1556/the-mindful-revolution/

  2. https://www.inc.com/marissa-levin/why-google-nike-and-apple-love-mindfulness-training-and-how-you-can-easily-love-.html

  3. https://www.itv.com/news/2019-02-24/mental-health-trials-launched-in-schools

Referensi

  • Chaskalson, M. 2011. The Mindful Workplace: Developing Resilient Individuals and Resonant Organizations with MBSR. Wiley-Blackwell, Oxford.

  • Kabat-Zinn, J. 2013. Full catastrophe living: Using the wisdom of your body and mind to face stress, pain and illness. Delacorte, New York.

  • Segal, Z., Williams, M., Teasdale, J.. 2013. Mindfulness-Based Cognitive Therapy for Depression. The Guilford Press, New York.

  • 2019. Mindfulness in the Workplace: Case Study. Stanford Graduate School of Business.

  • https://positivepsychology.com/mindfulness-at-work/


Tim Editorial

  • Shirley Suhenda, PhD, PCC

  • Gregorius Widjanarko, M.T.

  • Tarani Girindaswari


Henk T. Sengkey

Founder Principia. Salah satu pelopor leadership development di Indonesia. Hal ini dimulai dengan membawa Stephen Covey (7 Habits of Highly Effective People) ke Indonesia pada 1991. Dalam 10 tahun terakhir, Henk melakukan coaching bagi pemimpin-pemimpin senior di organisasi finansial, ritel, farmasi, konsultan, dan masih banyak lagi.

Kombinasi kekuatan-kekuatan karakternya, yaitu rasa keingintahuan, perspektif, dan inteligensi sosial, dengan tingkat kematangannya dalam berpikir, menjadi Henk sebagai coach yang sangat diandalkan oleh kliennya.

Previous
Previous

Menakar Posisi Compassion dalam Organisasi Bisnis

Next
Next

Mulai Menjadi Leader as Coach yang Efektif