Mulai Menjadi Leader as Coach yang Efektif

Newsletter Ed. I, 2021


Semua orang adalah pemimpin diri;
tapi, tidak semua pemimpin diri bisa memimpin diri (sendiri) secara efektif.
— Charles C. Manz
NL_Banner_2101.jpg

Tahun 2020 merupakan tahun yang berat bagi sebagian besar orang, kondisi pandemi memaksa banyak orang untuk cepat beradaptasi, mengubah cara kerja, dan gaya hidupnya, jika ingin lolos dari incaran Covid-19. Masa-masa krisis seperti ini semakin menyadarkan organisasi betapa pentingnya mengembangkan sumber daya manusianya agar mampu beradaptasi lebih baik. Dalam 10 tahun terakhir istilah Leader as Coach semakin mengemuka karena, seiring dengan percepatan perubahan, dibutuhkan para pemimpin yang mampu mengembangkan anggota timnya menjadi resilien, lincah, dan adaptif, supaya dapat memberikan kinerja yang konsisten baik di tengah ketidakpastian.

Covid-19 adalah akselerator percepatan perubahan yang dahsyat, yang memaksa semua orang harus beradaptasi jika ingin selamat. Karenanya kemampuan 'coaching' menjadi semakin penting untuk meningkatkan efektivitas seorang pemimpin, bahkan untuk survival jangka pendek. Namun demikian, sebelum seseorang ingin mengembangkan diri sebagai Leader as Coach, dia perlu mempersiapkan dirinya dulu. Seberapa dia sudah juga mendidik dan mengembangkan dirinya menjadi resilien, lincah, dan adaptif?

Apa itu Leader as Coach? Principia mendefinisikan Leader as Coach yang efektif sebagai pemimpin yang bukan hanya kompeten dalam mencapai sasaran bisnisnya, tapi juga dapat mengembangkan kapasitas tim dengan menggunakan pendekatan coaching. Dalam sasaran pengembangan kapasitas tim ada empat hal yang disasar, yaitu: (1) kompeten, (2) selaras/aligned, (3) mandiri/self-directed, dan (4) adaptif/adaptable. Sasaran pengembangan ini tentu juga relevan bagi sang pemimpin, karena salah satu peran penting pemimpin adalah menjadi teladan bagi anggota timnya.

Newsletter edisi kali ini akan secara singkat membahas keempat kapasitas yang menjadi sasaran pengembangan tadi, khususnya untuk membangun kapasitas seorang pemimpin agar siap menjadi Leader as Coach.

Pertama adalah menjadi kompeten. Memiliki kompetensi tentu hal yang tidak bisa dihindari untuk menjalankan tugas dan fungsi seorang pemimpin. Tapi khususnya bagi pemimpin dalam konteks menjalankan coaching, ada beberapa kompetensi mendasar yang perlu dikuasai, seperti kemampuan mendengarkan secara aktif dan mengajukan pertanyaan yang efektif sekaligus menginspirasi. Sebagai acuan, Principia menggunakan kompetensi-kompetensi inti coaching yang didefinisikan oleh International Coach Federation (ICF).[1] Seberapa Anda sudah cukup baik mendengarkan aspirasi-aspirasi dari dalam diri Anda sendiri? Seberapa Anda sudah secara konsisten terus mengembangkan kompetensi diri sendiri?

Hal yang kedua adalah Aligned atau keselarasan. Ini merupakan hal penting dalam tim dan organisasi, karena, tanpa keselarasan visi dan tujuan, tim dan organisasi tidak dapat memenuhi tujuannya dengan optimal. Tetap selaras dengan arah organisasi di tengah intensitas perubahan yang tinggi sangatlah sulit. Sebagian orang memilih untuk pasif, menunggu ditarik oleh yang lain, karena dia sulit menakar arah perubahan. Butuh resiliensi dan kelincahan untuk bisa terus selaras dengan situasi perubahan yang dialami organisasi. Seorang Leader as Coach yang efektif akan mampu mengembangkan timnya untuk tetap selaras. Namun, sebelum melakukan itu, dia perlu mengecek dirinya dengan jernih, seberapa dia sendiri sudah cukup resilien dan lincah dalam menjawab tantangan-tantangan perubahan ini? Seberapa dia sudah secara aktif ikut menentukan arah perubahan, dan bukannya pasif menunggu ditarik oleh yang lain?

Kemudian yang ketiga adalah Self-directed atau mandiri, ini berarti seseorang yang bisa mengambil keputusan dan bisa mengatur pekerjaannya sendiri tanpa harus selalu diperintahkan orang lain.[2] Hal ini terdengar masuk akal, namun bagi sebagian besar organisasi, hal ini tidak selalu mudah dilakukan. Banyak pemimpin organisasi yang sudah nyaman dengan mekanisme top-down command dan pendekatan kontrol yang ketat, merasa pendekatan coaching terlalu “lembek”, dan secara psikologis merasa otoritasnya terancam jika melakukan coaching (Ibara, 2019). Begitu pula dengan anggota timnya, mereka yang sudah biasa nyaman menuruti perintah, akan sulit ketika diminta lebih aktif dan berinisiatif dalam mengambil keputusan-keputusan penting, walaupun sebenarnya hal tersebut ada dalam otoritasnya. Sulit karena beresiko harus bertanggung jawab. Memang, butuh kompetensi dan keberanian untuk bisa mandiri. Seorang Leader as Coach yang efektif akan membangun timnya menjadi lebih berani dan mandiri untuk mengambil peran, sesuai dengan otoritas yang diberikan. Namun sebelum melakukan itu, dia perlu mengecek dirinya dengan sungguh-sungguh, sudahkan dia juga mandiri dan optimal dalam menjalankan fungsi-fungsinya?

Lalu sasaran pengembangan keempat adalah menjadi Adaptable atau adaptif, yaitu kemampuan atau kemauan untuk dapat berubah sesuai kondisi yang berbeda.[3] Hal yang terdengar sangat sederhana, tapi pada kenyataannya agar orang bisa berubah ternyata tidak sederhana. Kemampuan orang untuk bisa beradaptasi bisa dipengaruhi banyak hal, tapi ada hal-hal dalam diri yang bisa dibangun untuk bisa melakukannya lebih baik, misalnya dengan mengembangkan kesadaran diri dan resiliensi, dan yang sering dilupakan, membangun visi dan harapan untuk masa depan yang lebih baik. Seorang Leader as Coach yang efektif akan membangunkan kapasitas adaptif anggota timnya sehingga punya energi yang cukup untuk melakukan perubahan-perubahan, karena bisa melihat semuanya sebagai sesuatu yang penting dan bermakna, bukan sekedar ingin selamat. Namun sebelum melakukan itu, dia perlu mengecek kembali ke dalam dirinya, sudahkan dia memiliki harapan dan visi yang otentik untuk masa depan? Sudahkah dia menemukan dalam dirinya, untuk hal-hal apa dia juga perlu adaptif?

Keempat sasaran pengembangan ini tentu saling berkaitan dan membangun satu sama lain, misalnya, pemimpin yang kompeten bisa menjalankan fungsinya yang selaras dengan tujuan organisasi. Kompeten dan keselarasan menjadikan orang semakin self-directed atau mandiri dengan lebih baik. Kemandirian juga membuat orang bisa lebih beradaptasi, meningkatkan kompetensinya, serta dengan cepat mampu menyelaraskan kembali semua aspirasi, tujuan-tujuannya, dan bahkan perilakunya, agar berhasil menjawab tantangan perubahan.

Memahami keempat kapasitas yang bisa dibangun melalui pendekatan coaching ini juga memberikan gambaran secara umum mengapa coaching berguna bagi organisasi untuk menghadapi situasi yang terus berubah. Bagi sang pemimpin, terutama yang ingin menjadi Leader as Coach yang efektif, tentu juga harus terus mengembangkan kapasitas ini dengan proses coaching. Bukan suatu rahasia banyak orang-orang di puncak kesuksesan, seperti Bill Gates atau Jack Welch dari GE, juga memiliki Coach untuk tetap mengembangkan kapasitasnya.[4]

Tentu saja tidak perlu kita menjadi sempurna terlebih dahulu, baru menjadi seorang Leader as Coach. Tapi menyadari dan bisa mengidentifikasi bagaimana keempat kapasitas itu juga sedang dibangun dalam diri sang Leader as Coach akan membantunya menjadi Coach yang efektif bagi anggota timnya. Mari siapkan diri Anda untuk menjadi Leader as Coach. Siap memulainya hari ini?

5 Coaching Tips Infographic Social Media Post.jpg


Tim Editorial

  • Shirley Suhenda, PhD, PCC

  • Tarani Girindaswari


Gregorius Widjanarko, M.T.

Teknologi, gaming, dan knowledge management adalah passion-nya. Dengan latar belakang dan pengalaman di bidang teknologi informasi, beserta minatnya untuk menggali dan mengembangkan metoda baru untuk pembelajaran profesional, menjadi kekuatan untuk mengembangkan solusi-solusi Principia dengan teknologi relevan dan terkini.

Previous
Previous

Menerapkan Mindfulness Di Tempat Kerja

Next
Next

Sebagai Pemimpin, Apa Pilihan Naratif Anda Untuk Masa Depan?