Sebagai Pemimpin, Apa Pilihan Naratif Anda Untuk Masa Depan?

Newsletter Ed. VI, 2020


Menyusun narasi dari berbagai peristiwa dalam kehidupan kita akan memberikan suatu kejelasan; menawarkan suatu kerangka yang lebih bermakna dari keseharian kita.
— Maria Esfahani Smith, The Power of Meaning
NL_Banner_2006.jpg

“Tapi diperjalanannya, …akhirnya saya nemuin bahwa ini semua sudah takdir. Karena tahu ini sudah ditakdirkan untuk usaha jamu saya, saya komit menjadi spesialis di bidang ini.” Ini penggalan video wawancara[1] Bapak Irwan Hidayat, yang lebih dikenal sebagai CEO dari Sido Muncul. Beliau pun menceritakan bahwa awalnya memang cukup terpaksa untuk masuk ke perusahaan yang diwariskan dari neneknya ke keluarganya.

Menarik sekali kalau kita perhatikan bahwa Sido Muncul saat ini adalah perusahaan jamu yang paling maju di Indonesia berkat visi beliau. Salah satu contoh, di tahun 1983 saat jamu masih cukup berjaya, beliau tidak terlena dan menarasikan suatu visi agar jamu yang mereka produksi bisa dibuktikan manfaatnya melalui proses dan uji klinis yang modern. Saat ini visi ini terbukti mempertahankan kelangsungan perkembangan organisasinya, sehingga produknya sekarang diterima bahkan di pasar modern dan hingga luar negeri.

Tentu akan berbeda hasilnya jika beliau tidak menarasikan hidupnya untuk terus bergelut di bidang jamu. Saya rasa beliau akan tetap sukses, namun tentu perusahaan Sido Muncul tidak akan menjadi ikonik seperti saat ini.

Ya… bagaimana kita menarasikan hidup ini ternyata bisa mengubah diri kita dan berdampak bagi orang-orang di sekeliling kita. Pada newsletter kali ini, saya akan membahas mengenai kekuatan narasi atau storytelling, dan bagaimana kekuatan ini bisa membantu kita membangun salah satu pilar well-being dalam psikologi positif, yaitu meaning atau makna.

Kekuatan Narasi

Pada 2009, Rob Walker dan Joshua Glenn, jurnalis New York Times dan penulis buku, melakukan eksperimen dengan membeli sejumlah besar barang di tempat lelang baran bekas, yang masing-masing benda harganya hanya sekitar 1 dolar. Lalu ia meminta para penulis profesional untuk bergabung dalam eksperimennya dan menuliskan sebuah narasi mengenai objek tersebut dan menaruhnya kembali di situs lelang. Hasilnya membuktikan hipotesis mereka, bahwa narasi dapat meningkatkan persepsi makna bagi seseorang. Pada percobaan pertama, dari barang-barang yang bernilai 128 dolar, terjual kembali dengan nilai 3.612 dolar, lebih dari 28 kali nilai aslinya.

Emily Esfahani Smith, jurnalis dan penulis buku The Power of Meaning (2017), menuliskan bahwa cerita yang kita katakan pada diri sendiri akan membantu kita memahami siapa diri kita, bagaimana perkembangan diri kita dalam hidup, dan bagaimana hidup kita bisa sangat berbeda. Dalam buku tersebut ia menceritakan tentang seorang atlet muda bernama Emeka Nnaka, pemain football Amerika yang mengalami cedera di salah satu pertandingan, dan menjadi lumpuh. Peristiwa naas itu membuat dirinya mempertanyakan kembali makna hidupnya. Kemana masa depannya bisa dibawa? Sebelumnya pertanyaan-pertanyaan ini mungkin mudah dijawabnya. Dia dulu adalah seorang atlet, punya pergaulan luas, dan mahasiswa dengan prestasi akademis yang menjanjikan masa depan. Pada satu titik permenungannya, Nnaka memutuskan untuk menulis ulang identitasnya, membalikkan pengalaman kelumpuhannya menjadi cerita yang lebih positif. Dia memutuskan untuk menjadi seorang sukarelawan. Kegiatan ini membantu Nnaka untuk kembali meneruskan kuliahnya dan juga mengambil master di bidang konseling. Pengalamannya justru digunakan untuk menyemangati orang lain dan sekarang ia merasa hidupnya justru lebih bermakna dibandingkan karir yang dia bayangkan sebelumnya.

Cerita ini mungkin menginspirasi, tapi apakah benar bahwa narasi baru yang dibuat Nnaka bagi hidupnya itulah yang membantunya mengubah kehidupannya? Bagaimana cara kerjanya?

Psikolog McAdams menegaskan bahwa pilihan Nnaka—atau yang McAdams sebut sebagai narrative choice—merupakan faktor penting yang membuat Nnaka berubah dalam melihat hidupnya, dan lebih dari itu, menemukan kembali makna dalam hidupnya (Smith, 2017). McAdams sendiri telah lebih dari 30 tahun meneliti bagaimana narasi diri seseorang bisa memengaruhi makna hidup dan well-being-nya (2008). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ternyata ada satu topik yang serupa dari narasi mereka yang merasa hidupnya sangat bermakna, yaitu adanya satu titik pertobatan, redemption story, atau transisi, di mana mereka menjadi orang yang lebih baik.

Menarasikan Kembali Kisah Anda Sebagai Pemimpin

Salah satu sumbangsih riset ilmu psikologi dan psikoterapi adalah bagaimana dengan membuat, mengubah, merevisi, dan menerjemahkan ulang narasi hidup Anda sendiri meskipun tentu ada fakta-fakta yang membatasi. Dengan memaknai dan menceritakan ulang momen-momen penting hidup kita, kemudian memahami titik balik atau transformasi diri kita, narasi baru tersebut bisa membantu kita meningkatkan makna hidup dan merasa lebih punya kendali atas kehidupan yang kita akan jalani. Terapi ini sama efektifnya dengan obat anti depresi dan terapi perilaku kognitif (Gottschall, 2012; Shedler, 2010).

Kemampuan untuk membangun narasi kehidupan yang lebih baik bagi diri sendiri tidak hanya akan berdampak positif pada diri sendiri, tapi juga bagi orang lain. Menurut Paul Smith (2012) pemimpin bisa menggunakan kekuatan narasi ini untuk menginspirasi organisasi, menceritakan visi, membagikan pembelajaran penting, membentuk budaya dan nilai organisasi, serta, tentu saja, menggambarkan siapa Anda sebagai pemimpin.

Terlebih di masa pandemi seperti ini, banyak organisasi bisnis perlu melakukan penyesuaian, karena situasinya memang menuntut perubahan. Di saat-saat seperti ini justru para pemimpin bisnis harus berhenti sejenak dan memikirkan kembali langkah yang harus diambil dengan baik, mengingat kembali hal-hal terbaik yang pernah dan bisa dilakukan. Para pemimpin organisasi bisa mengubah bagaimana dirinya dan organisasinya memaknai perjalanan sejarah yang dilaluinya secara berbeda. Melakukan hal ini tidak akan berdampak apa-apa jika dilakukan hanya untuk sekedar punya cerita yang ‘menarik’. Sebaliknya, jika dilakukan dengan tulus dan autentik, narasi ‘baru’ ini benar-benar secara alamiah akan membangkitkan rasa haru yang menggelora di dalam hati kita, dan bahkan juga bagi orang lain, untuk bisa meningkatkan makna hidup, makna organisasi dalam kehidupan setiap orang, dan karenanya bisa berdampak sampai pada mengubah arah perkembangan organisasi, seperti yang dikisahkan di awal tulisan ini oleh Bpk. Irwan Hidayat dari Sido Muncul. Ketika dia mengubah narasi hidupnya, dari orang yang tadinya menolak warisan perusahaan jamu dari neneknya itu, menjadi orang yang menerima dan berkomitmen memajukan produk jamu. Dia kemudian mewujudkan komitmen itu dengan membuktikan jamu sebagai produk yang bermanfaat nyata dan dapat dibuktikan dengan uji klinis modern, sejak itu Sido Muncul mentransformasi dirinya menjadi perusahaan jamu modern yang terus berinovasi untuk menghasilkan kualitas kinerja terbaik, bahkan di saat pandemi.[2]

Dengan merefleksikan dan menarasikan ulang hidup kita secara baru dan autentik, berdasarkan hal-hal yang secara autentik penting dan berharga bagi kita, maka kita semua berpeluang besar untuk menata ulang makna dan arah perjalanan hidup kita, tentunya ke arah yang lebih baik, ke arah yang membuat hidup kita semakin berharga untuk dijalani dan diperjuangkan. Tidak hanya itu, melakukan ini juga akan membuat kita menjadi pemimpin yang visioner dan inspiratif bagi yang lain, terutama di saat-saat penuh ketidakpastian seperti sekarang ini. Bagaimana jika Anda mencoba melakukannya pada kehidupan Anda saat ini? Jika Anda akan menarasi ulang hidup Anda sebagai seorang Pemimpin, akan seperti apakah narasi kepemimpinan Anda yang baru itu?

Infografis_20-06.png

  1. The CEO: Irwan Hidayat, Pelopor Jamu Modern Lewat Sido Muncul. https://www.youtube.com/watch?v=jxgjGSfuR8Q

  2. Kinerja Sido Muncul Sesuai Ekspektasi Saat Pandemi. https://investor.id/market-and-corporate/kinerja-sido-muncul-sesuai-ekspektasi-saat-pandemi

Referensi

  • Smith, Emily Esfahani. 2017. The Power of Meaning: Crafting a Life That Matters.

  • The CEO: Irwan Hidayat, Pelopor Jamu Modern Lewat Sido Muncul. https://www.youtube.com/watch?v=jxgjGSfuR8Q

  • Philips, David JP. Magical Science of Storytelling. https://youtu.be/Nj-hdQMa3uA

  • Rob Walker dan Joshua Glenn. 2009. Project Significant Objects. https://significantobjects.com/about/

  • Jack J. Bauer, Dan P. McAdams & Jennifer L. Pals. 2008. Narrative Identity and Eudaimonic Well-Being. Journal of Happiness Studies 9, no. 1.

  • Shedler, Jonathan. 2010. The Efficacy of Psychodynamic Psychotherapy. American Psychologist 65, no. 2: 98-109

  • Gottschall, Jonathan. 2012. The Storytelling Animal: How Stories Make Us Human. Mariner Books, New York.

  • Smith, Paul. 2012. Lead with a Story: A Guide to Crafting Business Narratives that Captivate, Convince, and Inspire. AMACOM Books.


Gregorius Widjanarko, M.T.

Teknologi, gaming, dan knowledge management adalah passion-nya. Dengan latar belakang dan pengalaman di bidang teknologi informasi, beserta minatnya untuk menggali dan mengembangkan metoda baru untuk pembelajaran profesional, menjadi kekuatan untuk mengembangkan solusi-solusi Principia dengan teknologi relevan dan terkini.

Previous
Previous

Mulai Menjadi Leader as Coach yang Efektif

Next
Next

Bagaimana Nilai-Nilai Inti Menyelamatkan Organisasi di Era Normal Baru