Manusia Dan Tarikan Masa Depan
Newsletter Ed. IX, 2019
“Predator yang paling berbahaya di planet ini bukanlah yang terkuat atau tercepat, tapi yang memiliki daya antisipasi dengan jangkauan waktu terpanjang, itulah manusia.”
Jika 150 tahun yang lalu seseorang dibilang bahwa suatu saat setiap orang bisa bebas terbang ke mana saja, mungkin dia akan tertawa dan berpikir itu adalah suatu hal yang mustahil. Tapi saat ini lebih dari empat milyar orang terbang dengan penerbangan komersial setiap tahunnya ke berbagai belahan di dunia. Contoh kecil ini hanya ingin menggambarkan bahwa kita sering mengecilkan ide-ide yang di jamannya dianggap terlalu sulit atau hampir tidak mungkin untuk dicapai. Selalu saja, setelah waktu berlalu dan ide itu menjadi kenyataan, baru kita lebih menghargai betapa besarnya kekuatan sebuah gagasan tentang masa depan.
Martin Seligman dan koleganya, dalam buku Homo Prospectus (2016), mengatakan bahwa kelebihan kita dibanding dari makhluk mamalia lain adalah kemampuan mengantisipasi dan mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi masa depan, untuk digunakan sebagai panduan bagi pemikiran dan tindakan kita di masa sekarang. Namun, menurut Seligman, selama ini kita belum memikirkan secara mendalam mengenai dampak bayangan masa depan tersebut pada psikologi kita, bahkan kajian psikologi positif pun belum banyak mengeksplorasi. Ya, banyak riset sudah membahas hal ini, tapi bagaimana menggunakannya sungguh-sungguh sebagai sebuah kekuatan untuk membangun kehidupan, belum banyak dieksplorasi. Seligman dan koleganya melihat kini saatnya kita mulai menggunakan kapasitas daya antisipasi ini, bukan sekedar untuk memecahkan masalah, tapi benar-benar untuk membangun masa depan dari sekarang.
Menurut kami, hal ini benar adanya. Daya antisipasi merupakan kapasitas yang perlu kita bangun dan terus pertajam, karena saat ini, di tengah kecepatan perubahan yang ada, sepertinya kita mulai meragukan kemampuan kita untuk mengantisipasi masa depan.
Apa persisnya yang dimaksud Seligman dengan menggunakan daya antisipasi bukan sekedar untuk memecahkan masalah, tapi terutama untuk membangun masa depan dari sekarang?
Daya Antisipasi dan Kekuatannya dalam Membangun Masa Depan
Ambil contoh mengenai ingatan atau memori. Kita memandang memori lebih sebagai alat untuk menyimpan pengalaman masa lalu. Tapi, apakah yang disimpan dalam memori kita itu benar-benar faktual? Ternyata, menurut riset, banyak sekali hal yang kita simpan dalam memori tidak akurat, dan hal itu terjadi karena ingatan tersebut berkelindan dengan emosi, intuisi, dan asumsi-asumsi yang kita punya sebelumnya.
Dengan daya antisipasi, Seligman dan timnya mengusulkan bahwa kita bisa menggunakan memori bukan sekedar untuk mengingat masa lalu tapi juga untuk mempersiapkan diri kita di masa depan. Karena pada dasarnya, memori kita bukan merupakan suatu rekaman yang akurat dari kejadian lampau tapi suatu narasi yang kita buat “untuk memandu pikiran tindakan kita… Memori itu untuk bertindak” (Seligman, 2016, hlm. 15). Kekuatan yang sama bisa kita gunakan untuk membangun masa depan, jika kita mengisi memori kita dengan hal-hal yang akan kita lakukan di masa depan.
Begitu pula emosi kita, yang sering dianggap sebagai suatu respon spontan dari suatu kejadian. Kenyataannya, bagi manusia, emosi bisa menjadi suatu kekuatan yang memandu tindakan kita untuk mewujudkan masa depan. Reaksi emosi yang kita miliki, baik itu berupa ketakutan, kemarahan, penyesalan, sedih maupun gembira, hadir dalam diri kita, tidak hanya untuk ‘mempersiapkan’ diri kita menghadapi apa yang akan terjadi; namun juga bisa menjadi kekuatan yang mendorong kita mewujudkan apa yang ingin kita lihat terjadi di masa depan. Seligman dan timnya menyebut hal ini sebagai “Anticipated Emotion” (Seligman, 2016, hlm. 213). Pengalaman-pengalaman yang melibatkan emosi akan membantu kita untuk memperkirakan secara lebih baik tentang pilihan-pilihan dan pengalaman-pengalaman yang akan mendorong tindakan kita secara lebih positif dan konstruktif, dan menghindari sedapat mungkin tindakan-tindakan yang akan ‘mengancam’ masa depan yang kita inginkan.
Kekuatan daya antisipasi manusia ini menunjukkan kekuatan tersembunyi dari mind wandering, yaitu ketika kita ‘berkelana’ dalam pikiran, dan secara konstruktif membentuk suatu peta kognitif yang akan memandu tindakan-tindakan kita di masa depan. Pastinya peta kognitif bersifat sosial, artinya tidak dibangun manusia dalam isolasinya, tapi dalam kebersamaannya dengan manusia lain. Daya antisipasi ini dibangun manusia bukan dalam kesendiriannya, justru semakin kuat ketika seseorang belajar dari manusia lain. Lebih dalam lagi, jika kita hayati betul daya antisipasi ini, pemikiran “masa depan sebagai sebuah kebermungkinan” tidak lagi menjadi sesuatu yang jauh, karena kebermungkinan itu sudah kita antisipasi lewat pilihan dan keputusan kita hari ini.
Daya Antisipasi Sebagai Daya Inovasi di Tempat Kerja
Jika dikaitkan dengan dunia kerja, daya antisipasi ini menjelaskan bagaimana kreativitas muncul dan berujung pada tindakan-tindakan yang diberi label ‘inovatif’. Dari segi daya antisipasi, Inovasi dijelaskan oleh Seligman dan timnya sebagai sebuah “representasi mental masa depan yang orisinal, berguna, dan telah diterapkan dalam skala besar” (Seligman, 2016: hlm. 308).
Inovasi pada dasarnya dimungkinkan karena kemampuan manusia untuk berimajinasi. Imajinasi yang dimaksudkan di sini adalah suatu representasi mental, bisa visual, verbal, atau auditori, yang kita bayangkan dalam kepala kita. Representasi mental ini bisa terkait dengan masa lalu, kini, maupun masa depan.
Dalam prosesnya, kita menyeleksi imajinasi tersebut sehingga hanya sebagian dari yang kita bayangkan itu menjadi ‘kemungkinan-kemungkinan’ bagi masa depan kita. Inilah yang disebut dengan daya antisipasi. Setelah itu, kita mulai memilah dan memilih representasi mental yang dianggap baru, orisinal. Dari semua representasi mental yang orisinal itu, kita pilih lagi berdasarkan daya kegunaannya bagi kita; ide orisinal tentang masa depan yang kita anggap berguna itulah yang disebut sebagai ‘kreativitas’. Para peneliti sepakat bahwa ide atau solusi yang kita sebut sebagai ‘kreativitas’ itu memiliki juga elemen “kejutan (surprise)” atau “tidak umum (non-obvious)”. Akhirnya, kreativitas itu kita anggap sebagai inovasi yang berhasil ketika gagasan tersebut berhasil diterapkan dalam kehidupan nyata di tengah organisasi dan masyarakat.
Seperti yang dikatakan oleh Linus Pauling, ketika dia menghasilkan ide-ide inovasi yang bagus, sebenarnya yang dia lakukan adalah menghasilkan banyak sekali ide dan membuang ide-ide yang buruk (Csikszentmihalyi, 1996, hlm. 116).
Proses ini tentunya tidak selalu berjalan dengan rapi, karena memang proses berpikir kita tidak selalu rapi dan seringkali berkelindan tumpang tindih. Namun gambaran di atas secara sederhana dan cukup akurat menjelaskan bagaimana daya antisipasi menghasilkan ide-ide yang kita sebut sebagai inovasi.
Bagaimana Seorang Pemimpin Menggunakan Daya Antisipasi Ini?
Sudah menjadi pemahaman umum bagi kita, satu hal yang membedakan seorang pemimpin dan manajer adalah dari segi kapasitasnya menentukan arah. Pemimpin adalah mereka yang menentukan arah dan tujuan kelompok, dan manajer adalah mereka yang mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan tersebut. Kita menyebut arah atau tujuan ini dengan berbagai nama yang keren, tapi seringnya disebut sebagai visi. Berkenaan dengan itu, kita juga familiar sekali dengan tantangan mewujudkan visi, atau lebarnya gap pemahaman visi seorang pemimpin dengan anggota timnya. Bagaimana seorang pemimpin bisa mengatasi ini secara lebih efektif dengan menggunakan pemahaman yang lebih tepat tentang daya antisipasi, seperti yang dijelaskan oleh Seligman dan teman-temannya itu?
Pertanyaan yang mungkin relevan bagi mereka, atau pun kita, dan siapa pun yang menganggap dirinya sebagai pemimpin, dan merasa bertanggung jawab untuk membangun visi bagi tim dan organisasinya adalah “Seberapa visi tersebut dibangun berdasarkan daya antisipasi akan kemungkinan yang ingin diwujudkan di masa depan, dan bukannya karena daya antisipasi akan masalah yang terjadi di masa lalu?”; “Seberapa visi itu sudah dibangun menjadi suatu daya antisipasi kolektif, yang secara optimal sudah menggunakan kekuatan memori dan emosi semua pihak yang diajak untuk mewujudkan visi tersebut?” Semoga pertanyaan ini membantu Anda untuk mengantisipasi tahun 2020 dan tahun-tahun yang akan datang.
Referensi
Seligman, M. E. P., Railton, P., Baumeister, R. F., Sripada, C. (2016). Homo Prospectus. Oxford Univ. Press.
https://psychologyofwellbeing.com/201610/prospection-psychology-turns-to-the-future.html
Csikszentmihalyi, M. (1996). Creativity: Flow and the psychology of discovery and invention. New York, NY: HarperCollins.