Recharge!!!
Newsletter Ed. I, 2020
“Jangan pernah berkata tidak akan pernah, karena batasan, seperti rasa takut, lebih sering hanya sebuah ilusi.”
Bagaimana kabar Anda di awal tahun baru ini?
Saat-saat seperti ini biasanya merupakan momen yang tepat untuk mulai menetapkan sasaran baru dan setiap orang rasanya sudah cukup paham apa yang harus dilakukan agar tujuannya bisa tercapai. Saya, misalnya, sudah tetapkan salah satu target saya di 2020 adalah membaca dan mempelajari satu buku setiap bulan. Untuk itu, sudah jelas bagi saya, bahwa jika misalnya buku tersebut memiliki delapan bab, berarti jika saya mau mencicil, saya harus meluangkan waktu untuk membaca dua bab per minggu.
Namun, ada saja hal-hal yang membuat kita tidak melakukan kegiatan yang sudah kita rencanakan, walaupun sebenarnya kita sepenuhnya sadar kita harus melakukannya, dan sangat ingin melakukanya. Misalnya, ketika sudah mengalami maraton rapat dari pagi sampai sore, kepala saya terasa lelah, susah sekali untuk menggerakkan badan ini untuk membuka buku, apalagi membacanya. Pun jika akhirnya saya berhasil mengumpulkan cukup kekuatan dan energi untuk mulai membuka buku dan membaca, ternyata memang saya mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi. Energi saya seperti turun di titik terendah.
Pengalaman seperti ini persis menggambarkan apa yang menjadi riset Dr. Elliot Berkman, yang mempelajari bagaimana kondisi otak manusia bisa mempengaruhi perubahan perilaku. Berdasarkan temuannya pendekatannya dibagi menjadi dua komponen besar: niat (will) dan cara (way).
Niat berkaitan dengan dengan motivasi seseorang melakukan sesuatu atau “kenapa” orang mau melakukan sesuatu. Sedangkan ‘cara’ disini merujuk pada bagaimana seseorang secara kognitif dan fisik melakukan sesuatu.
Kembali pada pengalaman tadi, saat lelah sehabis rapat, saya ingatkan diri saya tentang pentingnya saya jalankan komitmen saya untuk membaca buku, yaitu saya ingin menjadi orang yang lebih kreatif dengan memiliki wawasan baru dari buku yang saya baca. Yes! Sesungguhnya ini memang cukup membantu, menaikkan energi saya untuk setidaknya bergerak mengambil buku tersebut dan mulai membukanya. Namun, begitu saya membuka halaman-halamannya, kepala saya terasa berat dan sulit untuk fokus, dan hal ini menurunkan motivasi saya. Ini adalah kondisi ketika stamina kita cukup baik, motivasi cukup kuat, namun mental kita terasa lelah. Apa yang sebenarnya terjadi dalam diri kita di saat seperti ini?
Menurut para peneliti hal ini terjadi biasanya karena kita sebelumnya melakukan banyak tugas yang menuntut kendali diri, seperti saat menghadiri banyak rapat, Anda telah bekerja keras untuk berkonsentrasi agar bisa berpartisipasi dalam diskusi dan ikut memecahkan masalah. Intensitas biasanya semakin tinggi ketika Anda berada di tengah rapat beresiko tinggi, seperti negosiasi bisnis atau mediasi konflik. Kegiatan yang terus-menerus menggunakan daya kognitif ini memang bisa menguras energi, atau dalam pendekatan neuroscience dikatakan, menguras ‘kapasitas mental’.
Menurut hasil penelitian (Berkman, 2018), proses kelelahan mental itu ternyata tidak bekerja seperti suatu bahan bakar yang bisa habis. Untuk menjalankan fungsi eksekutifnya, secara biologis otak kita ternyata tidak menuntut banyak energi, bahkan tetap menghabiskan energi yang sama ketika otak sedang beristirahat sekalipun. ‘Kelelahan mental’ ternyata lebih merupakan efek psikologis dan bisa diatasi dengan istirahat singkat atau dengan intervensi emosi positif, seperti misalnya, menonton klip pendek yang lucu atau menarik, ngobrol santai membahas hal yang remeh temeh dengan teman, atau bahkan sekedar berdiam diri menikmati suasana.
Saya mencobanya, dan memang berhasil. Sebelum saya mengambil buku, saya menyeduh kopi dan menyeruput kopi saya, menikmatinya tanpa intervensi aktivitas apa pun, benar-benar hanya menikmati kopinya itu. Setelah menghabiskan setengah cangkir kopi yang harum dan nikmat itu, otak saya siap untuk membantu saya membaca buku, mencapai target saya untuk baca 2 bab per minggu.
Namun, tetap perlu diingat, jika memang fisik Anda lemah dan perlu istirahat, Anda perlu berani untuk memutuskan berhenti dan benar-benar beristirahat untuk hari itu.
Jadi saat merasakan kelelahan mental apa yang bisa Anda lakukan? Recharge!!!
Waspadalah! Jangan langsung sama sekali menghentikan aktivitas Anda ketika Anda mengalami ‘kelelahan mental’. Anda hanya perlu menciptakan ‘ruang istirahat’ bagi otak Anda dengan aktivitas sederhana.
Ini yang bisa Anda lakukan:
Coba tenangkan diri dan refleksikan dahulu baik-baik apakah memang secara fisik sudah lelah atau memang hanya secara psikologis saja.
Jika secara fisik masih kuat dan masih ada waktu cukup untuk beristirahat (jangan sampai juga mengorbankan waktu tidur Anda di malam hari), maka ambil waktu sejenak untuk benar-benar rileks atau melakukan suatu kegiatan yang membangkitkan emosi positif, seperti melihat video singkat yang lucu (tapi jangan terlanjur melihatnya berjam-jam), menyeruput kopi atau teh favorit Anda, stretching tubuh Anda selama 5 menit, atau bahkan sekedar jalan santai di sekitar Anda.
Setelah itu, Anda bisa kembali untuk mengerjakan apa yang memang ingin Anda lakukan untuk mencapai tujuan penting Anda.
Dengan semangat positif dan kolaboratif,
Gerry
Referensi
Elliot T. Berkman, The Neuroscience of Goals and Behavior Change: Lesson Learned for Consulting Psychology, 2018.
https://healthypsych.com/feeling-burnt-out-you-could-be-experiencing-ego-depletion/
Dianne Tice, Roy Baumeister, Dikla Shmueli, & Mark Muraven: Restoring the self: Positive affect helps improve self-regulation following ego depletion, 2007.