Satu Langkah Menjadi Sedikit Lebih Bahagia

Newsletter Ed. II, 2020


Untuk bisa sedikit lebih bahagia setiap hari, manusia perlu memahami ‘bahagia’ sebagai sebuah kapasitas. Menjadi bahagia adalah potensi yang ada dalam diri setiap orang, karenanya bisa dipelajari dan dikembangkan.
— Shirley
nl-202002-banner.jpg

Ketika sedang melihat satu video tentang Ikigai, atau apa yang diterjemahkan oleh narasumbernya sebagai, “apa yang membuat Anda semangat untuk bangun pagi setiap hari”, saya jadi tercenung. Seberapa sering perasaan semangat seperti itu muncul saat saya bangun pagi? Rasanya, ketika bangun pagi, saya lebih sering spontan berpikir, “Ah, saya harus jogging kemudian mengerjakan A, B dan C.” Apakah pertanyaan “apa yang membuat Anda semangat untuk bangun pagi setiap hari?” ini terlalu berlebihan bagi kita?

Kemungkinan besar semua orang dalam hidupnya pasti mencari hal-hal yang akan membuatnya lebih sejahtera (wellbeing) atau bahagia. Pertanyaan “apa yang membuat Anda semangat untuk bangun pagi setiap hari?” bukanlah hal baru. Mulai dari para ahli filsafat zaman Yunani kuno yang menyebut ini sebagai konsep eudaimonia, sampai di masa ribuan tahun sesudahnya, di era modern ini, yang oleh para ahli psikologi positif disebut sebagai konsep Flourish. Perbedaan antara hari ini dan ribuan tahun lalu adalah saat ini sudah banyak sekali hasil riset dan statistik untuk mengukur dan memahami faktor-faktor apa yang membuat orang bisa mencapai Flourish dan juga intervensi-intervensi yang dengan tepat bisa membantu manusia untuk lebih bahagia setiap hari.

Salah satu isu mendasarnya adalah menemukan tolok ukur kebahagiaan. Apakah tolok ukur kebahagiaan ini bersifat universal atau sangat subyektif? Jika manusia itu memiliki esensi yang universal, mungkinkah ada tolok ukur kebahagiaan yang universal? Sejak 1960 hingga 2016 paling tidak ada 99 asesmen untuk mengukur tingkat kesejahteraan (wellbeing) manusia (Linton, M. et.al., 2016), dan salah satu yang cukup diakui oleh para akademisi dunia di kajian psikologi positif adalah model PERMAH.

Sejarah PERMAH dimulai pada 2002, ketika bapak ilmu Psikologi Positif modern, Martin Seligman, menerbitkan buku “Authentic Happiness” dan mencanangkan tiga faktor sebagai tolok ukur. Namun, setelah mendengarkan berbagai masukan dan kritik dan juga penelitian lebih lanjut, pada 2011 Seligman merevisi model ini dan menerbitkannya dalam bukunya, “Flourish”. Tolok ukur ini direvisi menjadi lima faktor dan menjadi akronim PERMA: Positive emotion, Engagement, Relationships, Meaning, dan Accomplishments. Hingga saat ini tolok ukur ini masih terus disempurnakan, bahkan Seligman sendiri mengakui walaupun PERMA sudah cukup baik tapi masih ada peluang ditambahkan lagi dan perlu penelitian lebih lanjut (Seligman, 2018). Selain itu beberapa ilmuwan lainnya menambahkan faktor Health atau kesehatan sebagai salah satu faktor mendasar (hygiene factor), sehingga terciptalah akronim PERMAH.

Berdasarkan hasil survei Strengths Lab 2019 pada lebih dari seribu pekerja di Amerika, mereka yang hidupnya merasa bahagia/sejahtera (consistently thriving) secara berkelanjutan, atau merasa hidup baik walau banyak menghadapi tantangan (living well, despite struggles), memiliki rata-rata nilai PERMAH yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang merasakan hidup sebagai perjuangan yang sulit (really struggling) atau biasa-biasa saja (not feeling bad, but just getting by).

nl-202002-infographic-0.png

Keenam faktor PERMAH ini bersifat universal, berlaku pada setiap sisi kehidupan kita, tidak hanya pekerjaan saja tapi juga keluarga, komunitas, dan lain sebagainya. Tapi perlu disadari, setiap orang memiliki kombinasi PERMAH yang berbeda. Misalnya, ada orang-orang yang bahagia karena memiliki banyak relasi berkualitas, dengan pasangan hidup, kerabat, dan sahabat. Ada juga orang-orang yang mungkin tidak banyak mempunyai banyak relasi berkualitas tapi bahagia karena sangat engage dengan apa yang ia kerjakan. Karena itu hanya kita sendiri yang bisa menentukan apa yang tepat perlu dikembangkan dari keenam hal itu, agar hidup kita ‘lebih’ bahagia.

Di sisi lain, menentukan mulai melangkah dari mana kadang tidak mudah. Bahkan ada saja orang yang menyerah dan mengatakan, “Saya rasa kebahagiaan saya sudah tidak dapat ditingkatkan lagi”. Tapi yang menarik adalah mereka yang masih mau berjuang atau really struggling justru secara rata-rata memiliki nilai yang lebih tinggi daripada mereka yang hidupnya sambil lalu atau just getting by. Hal ini menunjukkan bahwa mereka yang masih mau berusaha berkembang akan lebih bahagia daripada mereka yang merasa puas atau pasrah dengan situasi mereka.

Jika kita sulit menentukan langkah awal untuk ‘sedikit’ lebih bahagia, untuk berkembang menjadi ‘sedikit’ lebih sejahtera, maka kita bisa ‘meminjam’ kepala orang lain untuk membantu kita menemukannya. Berbicara dengan orang-orang dekat, pastinya akan membantu. Bahkan saat ini, proses coaching pun sudah semakin banyak bergerak ke arah sana. Dengan ‘meminjamkan’ kepalanya, seorang Coach dapat membantu kliennya untuk merefleksikan secara lebih mendasar dan konkrit, hal-hal yang akan membantunya menjadi ‘sedikit’ lebih bahagia, jika memang dia ingin meraihnya. Tentunya, Coach melakukannya tidak dengan banyak nasihat dan petunjuk, tapi lewat proses yang melepasbebaskan potensi kliennya, untuk bisa ‘sedikit’ lebih bahagia setiap hari, sehingga lama-lama dia bisa menjadi pribadi yang aktif dan proaktif dalam membuatnya hidupnya ‘sedikit’ lebih bahagia, ‘sedikit’ lebih sejahtera setiap hari.

Apakah Anda tertarik untuk mengembangkan diri atau orang lain menjadi sedikit lebih bahagia setiap hari? Cobalah mulai dengan mengisi asesmen di https://permahsurvey.com/ untuk mengukur tingkat PERMAH Anda saat ini. Asesmen ini akan memberikan gambaran wellbeing atau kesejahteraan Anda saat ini, dan juga cara-cara untuk membuatnya menjadi ‘sedikit’ lebih baik setiap hari.

Dengan semangat positif dan kolaboratif,


Gerry

nl-202002-infographic-1.png

Referensi

  • Seligman, Martin E.P. (2011). “Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-Being”.

  • Seligman, Martin E.P. (2018) PERMA and the building blocks of well-being, The Journal of Positive Psychology, DOI: 10.1080/17439760.2018.1437466

  • Linton M, Dieppe P, Medina-Lara A. (2016). Review of 99 self-report measures for assessing well-being in adults: exploring dimensions of well-being and developments over time. BMJ Open 2016;6:e010641. doi:10.1136/bmjopen-2015-010641

  • The Strengths Lab 2019 Workplace Survey. The Strengths Lab, a Michelle McQuaid Program.

  • https://www.michellemcquaid.com/product/strengths-lab-2019-workplace-survey/

  • Kauffman, Carol. Boniwell, Ilona. Silberman, Jordan. The Positive Psychology Approach to Coaching. The Complete Handbook of Coaching (2014).


Gregorius Widjanarko, M.T.

Teknologi, gaming, dan knowledge management adalah passion-nya. Dengan latar belakang dan pengalaman di bidang teknologi informasi, beserta minatnya untuk menggali dan mengembangkan metoda baru untuk pembelajaran profesional, menjadi kekuatan untuk mengembangkan solusi-solusi Principia dengan teknologi relevan dan terkini.

Previous
Previous

Meningkatkan Resiliensi Dengan Emosi Positif

Next
Next

Recharge!!!