Meningkatkan Resiliensi Dengan Emosi Positif

Newsletter Ed. III, 2020


Resiliensi bukan berarti menjadi bebas. Resiliensi berarti Anda mengalami, merasakan, gagal, terluka. Anda jatuh. Tapi, Anda (bangkit dan) terus melangkah.
— Yasmin Mogahed
nl-202003-banner.png

Pagi ini Andi akan melakukan presentasi di hadapan para jajaran Direksi. Andi sedikit gugup dengan presentasi nanti, sehingga ia ingin sampai kantor lebih pagi. Semua persiapan berjalan lancar, sampai ketika ia turun dari apartemennya di lantai 29 ke tempat parkir. Tiba-tiba Andi tidak menemukan kunci mobilnya. Panik, Andi langsung merogoh saku-saku celananya, membuka semua bagian tasnya. Lima menit berlalu, Andi belum menemukannya, kemudian ia memutuskan naik kembali ke kamarnya untuk mencari kunci mobil tersebut. Sambil berjalan, Andi berusaha menenangkan pikirannya. Setelah lebih rileks, Andi fokus kembali mengingat tempat terakhir kali ia memegang kunci mobilnya. Aha… kunci itu ditemukannya tersimpan rapi di saku bajunya. Pernahkah Anda menghadapi situasi yang serupa?

Apa sebenarnya yang terjadi dalam sistem kerja otak kita saat situasi semacam itu? Cerita Andi adalah salah satu contoh saat kita merasa ‘terancam’ dan emosi negatif muncul mempersempit fokus kita. Pada saat kita berusaha menetralkannya serta mengakses emosi positif, kita mulai melihat kemungkinan-kemungkinan lain yang sebelumnya tidak terlihat ketika kita masih dikuasai emosi negatif.

Kita rentan dikuasai emosi negatif di saat merasa terancam, seperti saat ini, ketika pandemi corona menyelimuti kehidupan kita. Ancaman ini nyata dan bukan ilusi. Mata uang rupiah yang melemah, situasi kerja yang kurang produktif, tekanan untuk memenuhi target, berita korban yang bertambah setiap hari, dan lain sebagainya. Agar kita tidak dikuasai emosi negatif, dan bisa tetap berpikir jernih, sehingga bisa tetap kreatif dan produktif menyikapi situasi penuh ancaman ini, kita perlu mengakses emosi-emosi positif kita. Kemampuan mengakses emosi positif ini merupakan kapasitas dan sekaligus kompetensi yang bisa dan perlu dikembangkan. Ini bukan sekedar supaya hidup lebih cerah ceria, lebih dari itu, emosi positif akan membantu kita lebih resilien, terutama di saat kita mengalami masa sulit.

Dalam penelitiannya Barbara Fredrickson (2001) mengungkapkan bahwa emosi positif bermanfaat untuk sedikitnya dua hal ini: membuka dan membangun pikiran. Dengan membuka pikiran, emosi positif bisa membantu kita menemukan pilihan atau tindakan baru yang sebelumnya terasa tidak terjangkau oleh pikiran kita. Menurut Fredrickson, emosi positif terbukti meningkatkan kreativitas karena membantu kita memiliki ‘pandangan yang lebih luas’, layaknya seperti bunga teratai yang perlahan merekah dalam hamparan sinar matahari yang menyinarinya.

Memahami hal ini menjadi penting bagi seorang Coach, karena coaching merupakan proses yang kreatif dan memicu pikiran Klien, yang membuat Klien terilhami untuk memaksimalkan potensi personal dan profesionalnya (ICF, 2020). Jika seorang Coach ingin membantu Klien, komunitas dan masyarakat banyak bisa tetap kreatif dan produktif di tengah krisis pandemi corona ini, Coach perlu membantu mereka untuk bisa secara autentik mengakses emosi positif dalam diri mereka, dan dari sana membantu mereka untuk bisa cepat bangkit menjawab tantangan yang ada. Resiliensi dibangun bukan hanya dari penghiburan, tapi terutama dari kapasitas yang ada di dalam diri setiap orang, yang pertama-tama dimulai dari kemampuannya mengakses dan menjaga emosi positifnya di tengah deraan masalah.

Beberapa cara yang bisa dilakukan Coach untuk membantu Klien mengakses, menjaga dan meningkatkan emosi positif di dalam dirinya:

  • Memperhatikan saat Klien menunjukkan emosi positif, baik dari perkataan, nada maupun komunikasi non-verbal lainnya; memberikan umpan balik pada Klien agar menyadari hal itu sehingga dia bisa menjaga emosi tersebut.

  • Menggali lebih dalam kata-kata yang terkait perasaan. Misalnya, Klien: “Saya merasa sangat luar biasa saat itu.” Coach: “Coba gambarkan lebih detil bagaimana persisnya perasaan luar biasa tersebut.”

  • Mengajak Klien untuk merasakan kembali momen-momen positif di masa lampaunya, contohnya saat mereka merasa berdaya (misalnya, saat kepercayaan diri meningkat, rasa damai yang menguatkan, atau saat merasa kuat dan berani menghadapi masalah dan ancaman) dan mengingat semua hal itu bukan hanya dengan pikiran, tapi dengan seluruh perasaan yang ada.

Namun, bila Klien sedang dirundung oleh emosi negatif yang sangat kuat, dan dari beratnya masalah itu sepertinya ‘wajar’ serta ‘pantas’ dia memiliki emosi negatif yang sepekat itu, maka, lebih baik bila perasaan ini diakui dan dirasakan. Proses ini akan memberikan Klien suatu jarak yang cukup sehingga dia tidak dikuasai oleh emosi negatif itu, dan bisa punya energi baru untuk segera melewatinya. Kadang kita perlu memberikan rasa hormat pada tantangan dan kesulitan hidup. Cara ini akan lebih sehat dan efektif daripada kita ‘memaksa’ orang untuk ‘bersikap’ positif, di saat dia merasa ‘berhak’ untuk kecewa, marah atau frustasi. Di dalam terapi Gestalt ada yang disebut “teori paradoks perubahan”. Agar seseorang bisa melepaskan emosi negatifnya, dia harus bisa merasakan emosi itu secara penuh (Driver, 2011).

Dengan membantu Klien mengakses emosi positifnya, Coach dapat membantu Klien secara lebih optimal dalam mencari solusi. Fredrickson menyebutkan paling tidak ada 10 emosi positif yang bisa kita kembangkan: 1) Joy (gembira); 2) Gratitude (bersyukur); 3) Serenity (damai); 4) Interest (ketertarikan); 5) Hope (harapan); 6) Pride (bangga); 7) Amusement (terhibur); 8) Inspiration (inspirasi); 9) Awe (kagum); 10) Love (cinta). Sepuluh emosi ini pastinya pernah Anda rasakan, sadar maupun tidak. Semakin kita bisa menyadarinya, menjaganya, dan mengembangkannya, maka efek emosi positif akan lebih terasa dalam membangun dan mengembangkan kapasitas berpikir dan bertindak kita, terutama saat kita perlu bangkit di tengah kesulitan.

Dalam situasi pandemi, emosi negatif tidak terelakkan. Tulisan ini ingin menyampaikan bahwa bahwa di masa-masa sulit serta tidak pasti seperti sekarang ini, kita punya pilihan untuk tidak dikuasai oleh emosi negatif tersebut, dan fokus untuk membangun dan meningkatkan emosi positif kita.

Jika Anda setuju, maka… emosi positif apa Anda rasakan hari ini? Lalu, apa emosi positif yang ingin dan perlu Anda jaga dan rawat supaya bisa tetap resilien di tengah situasi sulit seperti saat ini?

Dengan semangat positif dan kolaboratif,

Gerry

nl-202003-infographic.jpg

Referensi


Gregorius Widjanarko, M.T.

Teknologi, gaming, dan knowledge management adalah passion-nya. Dengan latar belakang dan pengalaman di bidang teknologi informasi, beserta minatnya untuk menggali dan mengembangkan metoda baru untuk pembelajaran profesional, menjadi kekuatan untuk mengembangkan solusi-solusi Principia dengan teknologi relevan dan terkini.

Previous
Previous

Menjaga (Menjadi) Harapan di Tengah Ketidakpastian Krisis COVID-19

Next
Next

Satu Langkah Menjadi Sedikit Lebih Bahagia