Menjaga (Menjadi) Harapan di Tengah Ketidakpastian Krisis COVID-19
Newsletter Ed. IV, 2020
“Kapasitas untuk (memiliki) harapan adalah fakta kehidupan yang paling penting. Hal ini memberikan manusia suatu tujuan dan energi untuk memulainya.”
Setelah dua bulan sejak pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia, kita semua mengalami perubahan yang sangat signifikan. Misalnya Work from home (WFH), bagi sebagian orang awalnya bisa memudahkan dan menyenangkan. Namun, memasuki bulan ketiga dan ujung yang tidak pasti, WFH bagi sebagian orang menjadi situasi yang penuh dilematis. Ketegangan di rumah meningkat ketika masing-masing tidak bisa konsentrasi, karena merasa tidak punya ‘ruang’ dan waktu khusus untuk bisa fokus; atau karena tidak lagi punya ‘jarak’ ketika komunikasi memburuk. Kabarnya, semenjak kebijakan #dirumahaja, tingkat KDRT meningkat dengan pasti.
Bosan, lelah, suntuk, rasa buntu… semua ini bisa mendorong kita untuk menarik diri, disengaged, terhadap lingkungan dan situasi krisis hari ini. Bagi yang masih bekerja, melakukan ini sama saja menjerumuskan diri sendiri pada kesulitan yang lebih besar. Bagi yang sudah dirumahkan, menarik diri berarti kondisi akan semakin buruk. Tapi untuk benar-benar bisa menjaga semangat dan harapan, untuk bisa kreatif dan produktif, di suasana krisis pandemi corona ini, sungguh amat sangat susah. Rasanya seperti patah hati pada kehidupan. Mau sampai kapan seperti ini? Pertanyaan ini tidak lagi menjadi retorika, tapi sebuah rasa frustasi berjamaah yang kental, karena semua pihak yang berkuasa tidak bisa menjawab pertanyaan ini dengan pasti.
Pertanyaannya adalah bagaimana agar kita tidak lagi menarik diri atau disengaged? Menurut Michelle McQuaid, orang yang hidupnya sejahtera dan terus berkembang (keep flourishing), salah satunya, ditandai oleh engagement, yaitu kondisi dimana seseorang secara positif terus menerus mengembangkan kekuatan-kekuatannya, khususnya dalam hal-hal yang dia minati dan anggap penting, sehingga hidupnya terasa berharga, bermakna dan penuh. Jika memang itu benar, pertanyaan ini perlu kita pertimbangkan, “Bagaimana caranya supaya di tengah situasi krisis ketidakpastian yang ditimbulkan oleh pandemi corona ini kita tidak kehilangan minat pada kehidupan, dan masih punya energi untuk memakai dan mengembangkan kekuatan-kekuatan kita?”
Setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi untuk bisa menjawab pertanyaan itu. Untuk bisa menjawab pertanyaan “Bagaimana” di tengah krisis ini, pertama-tama, kita perlu memiliki energi positif yang autentik, keyakinan yang sungguh-sungguh, bahwa hidup ini tetap berharga untuk ‘diperjuangkan’ dengan penuh semangat, tidak sekedar lewat. Jika kita sedang tidak bisa menemukan rasa berharganya hidup ini dalam kehidupan diri sendiri, saatnya kita perlu membuka diri, membuka koneksi dengan yang lain. Tetap menjaga dan membuka komunikasi dan relasi di saat krisis ini sangatlah penting, terutama ketika energi positif di dalam diri kita terasa terus berkurang. Di saat seperti ini, komunikasi sederhana, sekedar bertanya “Apa kabar?”, menjadi sesuatu yang sangat berharga, terutama jika dilontarkan dengan rasa empati dan kesungguhan. Di saat seperti ini, canda tawa menjadi sangat esensial, tanda bahwa hidup ini masih indah untuk kita tertawakan bersama. Jika Anda merasa hidup sendiri tidak terlalu berharga, tapi menjadi cukup berharga ketika Anda bisa membangkitkan senyum dalam wajah orang-orang yang Anda kasihi, maka Anda masih di jalur yang aman.
Belum lama ini Principia telah banyak memfasilitasi sesi-sesi sharing singkat untuk pemimpin-pemimpin di dalam organisasinya, seputar respon terhadap situasi pandemi. Saya sangat terinspirasi oleh kekuatan yang terbentuk dari tiap komunitas yang saling terbuka berbagi kesedihan, tantangan, kekhawatiran dan juga harapan. Mulai dari yang sibuk harus ikut mengurus rumah tangga, bisnis yang menurun tajam, hingga yang keluarga terdekatnya wafat karena corona. Keterbukaan para pemimpin yang secara autentik membagikan kesulitan, kesedihan, dan tentu juga harapan mereka, telah membangun rasa kebersamaan yang kuat di tengah komunitas mereka. Dari sana benih harapan tumbuh subur. Semua yang ikut sesi sharing setidaknya merasakan, bahwa mereka tidak sendirian.
Kedua, kita perlu memaknai harapan sebagai “kata kerja”, bukan kata benda. Keyakinan ini sering kita temukan di dalam diri orang-orang yang terus berjuang sampai titik darah penghabisan walaupun mereka tahu bahwa mereka mungkin tidak akan pernah menikmati hasilnya semasa hidup, atau melakukannya berarti resiko besar bagi hidup mereka. Orang-orang hebat ini menggunakan hidupnya sebagai langkah awal untuk mewujudkan harapan yang didambakannya, harapan yang ditaruhnya lebih tinggi dari hidupnya sendiri, dan persis itulah yang membuat hidupnya bermakna untuk dijalani. Harapan yang dihayati dalam wujud tindakan nyata untuk mewujudkannya adalah bentuk optimisme yang sesungguhnya. Harapan yang tidak ‘dikerjakan’ hanyalah impian kosong. Inilah definisi harapan yang juga disepakati oleh para ahli di bidang psikologi positif seperti Snyder (1991), harapan adalah sesuatu yang secara aktif diwujudkan, bukan pasif menunggu. Apakah Anda masih memiliki kekuatan harapan pada kehidupan bersama Anda dengan yang lain? Jika Anda bisa menjawab “Ya” atas pertanyaan ini, maka, bersama dengan energi positif yang autentik itu, mungkin Anda siap untuk menjawab “Bagaimana caranya agar tetap engage di tengah krisis ini?” Tentunya Anda perlu menjawabnya bersama dengan yang lain, tidak sendirian. Karena jawabannya ada dalam kebersamaan Anda dengan yang lain. Jika visi dan misi organisasi Anda seketika usang karena pandemi corona ini, tapi orang-orang di organisasi Anda masih berharga untuk diperjuangkan, tinggalkan visi misi lama, dan bentuklah yang baru.
Sudah siapkah Anda menjadikan hidup Anda ‘harapan’ yang Anda dambakan di tengah pandemi Corona ini? Mari kita mulai melakukannya hari ini!
Referensi
Snyder et. al. (1991) The will and the ways: Development and validation of an individual differences measure of hope. Journal of Personality and Social Psychology, 60, 570–585.
Amy Gallo & Monica Worline. (2020) What Your Coworkers Need Right Now Is Compassion. Dapat diakses di: https://hbr.org/2020/03/what-your-coworkers-need-right-now-is-compassion
Adam Grant & Jane Dutton. (2020) The secret to making Zoom meetings meaningful for you and your coworkers. Dapat diakses di: https://ideas.ted.com/the-secret-to-making-zoom-meetings-meaningful-for-you-and-your-coworkers/
Jessica Lindsey & Emiliana Simon-Thomas. (2020) How to Protect Your Well-Being at Work During a Crisis. Dapat diakses di: https://greatergood.berkeley.edu/article/item/how_to_protect_your_well_being_at_work_during_a_crisis